Showing posts with label I don't know which label should this post use. Show all posts
Showing posts with label I don't know which label should this post use. Show all posts

Thursday, August 20, 2015

Tontonlah sebuah film hingga selesai, hingga "credit title" usai..........

Kalimat judul posting ini adalah sebuah petuah yang saya dapatkan ketika bergabung selama beberapa bulan saja dengan UKM sinematografi kampus. Iya, saya pernah bergabung, bahkan sempat membuat sebuah film sebagai "syarat" keanggotaannya. Belum sampai peresmian menjadi anggota, saya sudah kabur. Saya baru sadar di tengah jalan bahwa saya enggan berpartisipasi dalam organisasi apapun di kampus saya. Padahal, justru masa-masa menjadi mahasiswa adalah masa-masa di mana orang-orang berlomba-lomba untuk mencicipi serunya bergaul dalam organisasi: pikiran sudah cukup "matang", tetapi idealisme masih tetap kuat dipegang. Mahasiswa, katanya begitu. Singkat kata, sejak tingkat satu saya enggan ikut UKM apapun. Alhasil, hingga tahun terakhir ini, saya adalah mahasiswa kupu-kupu. Amat jarang merasakan jadi kura-kura :D

Kembali lagi ke masalah kalimat judul postingan ini. Lalu, apa pentingnya menonton film hingga credit title usai dan kegelapan menyelimuti layar? Saya sih biasanya melihat credit title hanya untuk mencari tahu siapa pemeran tokoh X di film tersebut, misalnya, karena aktingnya bagus atau wajahnya ganteng, dan sebagainya. Atau saya hanya ingin tahu lagu-lagu apa saja yang menjadi soundtrack di film itu. Seringkali, alasan saya tetap tinggal di dalam studio bioskop hingga akhir bukanlah untuk melihat credit title melainkan mendengar lagu penutupnya sampai selesai. Saya yakin kebanyakan penonton film di bioskop juga sama seperti saya: tepat setelah film habis langsung keluar dari studio, atau setidaknya menunggu hingga antrian penonton yang keluar studio berkurang.

Apa pentingnya menonton film hingga credit title usai? Bukankah film-film layar lebar yang diputar di televisi toh seringkali dipotong atau dipercepat bagian credit title-nya? Ya, bahkan untuk melihat nama-nama pemerannya saja tidak bisa karena durasi yang sudah lewat batas.

Setelah petuah itu saya dapatkan di suatu sore saat kumpul rutin UKM dan saya pun merasakan sendiri betapa riweuhnya proses membuat film PENDEK (pendek aja udah riweuh, duh), saya baru sadar pentingnya mengapresiasi seluruh kru yang terlibat dalam proses pembuatan suatu film melalui menonton karya mereka hingga akhir. Saya pernah merasakan sendiri besarnya kebahagiaan saya ketika melihat nama saya berada dalam credit title film tersebut, meskipun saya bukanlah sutradara, produser, atau pemegang tugas-tugas mahabesar lainnya. Meskipun saya hanyalah pengatur pencahayaan. Meskipun saya hanyalah asisten camera person. Meskipun saya hanyalah <insert an unimportant job here>. "Akhirnya.........."

***

Bertahun-tahun setelah saya memaknai petuah tetua UKM sinematografi tersebut, saya baru sadar bahwa kalimat tersebut juga berlaku untuk buku. Coba saya tanya: seberapa sering Anda membaca halaman identitas buku yang berada di bagian-bagian depan sebuah buku? Iya, di halaman tersebut tidak hanya tercantum judul dan nama pengarang, tetapi juga nama penerjemah (jika buku terjemahan), editor, proofreader, desainer sampul, dan lain-lain. Seberapa sering Anda membaca atau setidaknya memperhatikan nama-nama yang tertera di halaman tersebut?

Sadarkah Anda bahwa buku masterpiece yang Anda baca itu melalui proses yang amat panjang sebelum sampai ke tangan Anda? Dan proses tersebut berlangsung karena adanya kerja keras dari banyak tangan; tidak langsung dari tangan penulis ke tangan Anda?

Saya termasuk orang yang apatis itu. Saya hanya ingat judul buku, pengarang, lalu penerbit. Ya, ingat bahwa buku X diterbitkan oleh penerbit Y saja rasanya sudah syukur alhamdulillah. Suatu waktu saya malah pernah menanyakan kelanjutan suatu buku yang diterbitkan oleh penerbit Y ke akun Twitter penerbit Z saking 'ignorant' nya saya..... Bagi orang-orang yang tidak ikut merasakan berkeringat deras dalam proses produksi sebuah buku, hal tersebut mungkin sepele. Tapi...ah, masa sih Anda se-ignorant saya?

Kejadian salah penerbit itu seharusnya membuat saya malu dan jadi lebih perhatian pada halaman identitas buku. Nyatanya, hati saya baru tergerak untuk lebih perhatian pada halaman tersebut setelah saya melihat nama orang yang saya kenal baik tercantum dalam halaman tersebut. Bukan sebagai penulisnya, toh nama penulis selalu tercantum di sampul, melainkan sebagai penerjemah. Rasa bangganya pada "karyanya" membuat saya terharu dan jadi bersimpati kepada orang-orang lain yang juga merasa bangga karena hal yang sama namun saya tidak mengenalnya :"D

Kejadian lain yang menggerakkan hati saya untuk lebih mengapresiasi lembar identitas buku justru datang dari pengalaman tidak mengenakkan. Saya membaca sebuah buku terjemahan yang sangat...sangat...menguras emosi saking tidak bagusnya. Padahal buku tersebut adalah best-seller di negara asalnya dan populer di dunia maya. Sejak saat itu, saya seperti memasang sensor peringatan pada diri saya: setiap kali melihat buku terjemahan terbitan penerbit tersebut, saya akan berpikir dua-tiga kali untuk membelinya.

Setelah kesadaran itu timbul, saya justru malu sendiri, karena seringkali saya berpuas hati akan aspek "perintilan" suatu buku (covernya bagus, terjemahannya tepat, suntingannya tanpa cela) tanpa mengetahui siapa orang dibalik kesempurnaan itu. Iya, malu banget, dulu baca Harry Potter terjemahan dari 1-7 tanpa mengenal siapa penerjemahnya. Malunya baru kerasa sekarang. Duh, Yu. Padahal membaca buku bukan kegiatan yang jarang saya lakukan. Tapi ketidakacuhan saya ini memang parah--memalukan.

Mana apresiasimu pada orang-orang yang menghadirkan mahakarya kesukaanmu, Yu?

***

Ketika Anda secara tidak sengaja tersasar ke blog ini dan membaca posting yang super panjang ini, sudikah Anda untuk menonton film hingga kegelapan menyelimuti layar? Sudikah Anda lebih peduli pada lembar identitas buku yang Anda baca? :)

NB.: Cara yang paling baik dalam mengapresiasi karya film atau buku adalah dengan tidak mengonsumsi produk bajakan. Jadi...beli yang asli, kalau memang tertarik. Kalau tidak yakin tertarik atau tidak.....cari pinjaman jauh lebih baik daripada unduh ilegal. Hihi.

Wednesday, February 25, 2015

Please stay alive as long as possible.


I know, people who thought about and committed suicide were having a-thousand-times harder life than mine, so my argument is absolutely invalid. Besides, I can't imagine what kind of decision I would dare to take if I were in their situation. This is just my spontaneous thought when I felt very sick and gave up of life--afterlife is scarier for its uncertainty. Life is full of sickness, that's the certain thing. Somehow, that --the certainty-- is better. For me.

If only I could send all the love to everyone out there who suffers from life. Don't let life beat you. I don't know you, but I love you. Many people do, too. Hugs.

Friday, October 17, 2014

Larangan yang Sangat-Membuat-Tergoda untuk Dilanggar

This post, as usual, is just my random thought. Tidak ada niat sama sekali untuk mempertanyakan dan menyangsikan kebaikan dari larangan-laranganNya atau mencoba melanggarnya. Tidak, sama sekali.

Postingan ini berawal dari pengalaman KKN saya. Sewaktu KKN dulu, untuk mengusir kebosanan, saya dan teman-teman sering bermain Truth or Dare. Pilih salah satu, menjawab pertanyaan teman lain dengan jujur atau melakukan tantangan. Kebanyakan dari kami memilih Truth. Bukan karena kami enggan melakukan Dare, tetapi berada di satu atap (dua atap, anak-anak laki-laki tinggal di rumah terpisah) selama sebulan dengan teman-teman yang baru dikenal beberapa hari saja membuat kami ingin mengenal satu sama lain secara lebih dekat. Permainan ini biasa kami lakukan untuk alasan tersebut.

Kembali ke permainan Truth or Dare. Berbagai pertanyaan yang sifatnya investigating dan kepo sering terlontar di antara kami. Terkadang pertanyaan itu lucu, tidak penting, namun seringkali juga cenderung filosofis dan serius. Sebuah pertanyaan mengusik benak saya hingga 7-8 bulan setelah selesai KKN. Pertanyaan itu, sayangnya, tidak pernah diajukan pada saya.

"Kalau lo diizinkan melakukan satu hal yang merupakan dosa satu kali sepanjang hidup lo, dosa atau larangan apa yang bakal lo lakukan?"

Saya lupa jawaban apa yang diberikan teman-teman saya pada pertanyaan seperti itu. Kalau tidak salah ada yang menjawab "mau ngedugem semaleman ampe puas". Entah apa jawaban lainnya. Tapi sejak pertanyaan itu terlontar di antara kami, saya telah memiliki satu jawaban.

Dosa atau larangan yang paling ingin saya lakukan adalah memelihara anak anjing untuk kesenangan semata: menjadikannya teman bermain, merawatnya, menyayanginya, membuatnya menemani saya kemanapun saya pergi.

Saya muslimah, dan saya tidak akan mencoba membuat pembenaran bagi larangan tersebut, seperti mungkin banyak orang lain. Larangan tersebut sudah jelas bagi saya: selain untuk berburu dan melindungi hewan ternak, anjing tidak diizinkan untuk dipelihara. Jangan mendebat saya dengan pertanyaan terkait dalil atau ayat, kalian bisa menemukannya di halaman blog lain, bukan di sini. Jangan pula mendebat saya sebagai manusia berpikiran sempit atau apa. Your judgement is yours. Keep it as yours. Ya, saya tahu memelihara anjing untuk kesenangan adalah sebuah larangan dan saya percaya larangan tersebut pastilah memiliki kebaikan. Saya telah dan akan selalu berusaha keras untuk tidak melanggarnya --tidak peduli betapa tergodanya saya untuk melakukannya.

Saya sendiri tidak pernah memiliki kawan-kawan mamalia berambut yang lazim dijadikan peliharaan di rumah. Kucing, hamster, kelinci...tidak pernah. Keinginan untuk memelihara anjing --sekalipun tidak dilarang-- mungkin hanyalah tinggal keinginan. Saya mencintai mereka. Saya tidak pernah tahan untuk tidak membelai hewan-hewan tersebut jika saya melihatnya di jalan atau di rumah orang lain--kecuali anjing. Tapi saya tidak sampai hati untuk memeliharanya. Kasihan. pikir saya. Kasihan jika sewaktu-waktu saya lalai menjaganya dan ada hal-hal yang tidak saya inginkan terjadi padanya. Sekalipun saya mampu menjaga hewan tersebut dengan baik sepanjang hidupnya, tentu akan tiba akhir masa hidup mereka. Saya tidak sanggup kehilangan mereka dari pelukan saya. Melihat sapi atau kambing disembelih saat Idul Adha saja sering membuat saya pilu. (Hehe, tapi tetep aja dimakan dagingnya :P) Karenanya, saya belum pernah mencoba memelihara hewan apapun.

Lalu, kenapa anjinglah hewan yang --dalam hati saya-- paling ingin saya pelihara?

Beberapa jenis anjing sangat menyerupai anak-anak beruang. Ya, itulah alasannya. Beruang adalah binatang kesayangan saya nomor satu yang hanya bisa saya lihat dari kejauhan di kebun binatang atau gambar-gambar di internet. Beruang itu besar, kuat, independen, sangat mampu mempertahankan dirinya, namun tetap terlihat lembut dan menyenangkan. Huge yet hug-able. Perlindungan seekor ibu beruang terhadap anak-anaknya juga selalu membuat saya ingin menjadi seperti ibu beruang bagi anak-anak saya kelak *ahzeg*.

Memang, tidak semua anjing terlihat mirip dengan beruang, tetapi pada umumnya kebanyakan anjing mampu membuat saya jatuh sayang, karena mereka juga mamalia yang kuat, perkasa, dan mandiri, tetapi tetap bisa menjadi sangat loyal dan protektif terhadap manusia yang menyayanginya. Tidak hanya anjing yang berukuran besar, banyak jenis anjing ukuran kecil pun memiliki sifat itu. Astaga, rasanya membahagiakan jika kita "disayangi" kembali oleh makhluk itu. Makhluk cerdas, anjing itu.

:')

Begitulah. Lagi-lagi, postingan ini hanya random thought saya seperti posting-posting saya biasanya. Pesan saya bagi siapapun yang memelihara anjing atau hewan apapun juga, sayangi mereka dengan baik. Jika kalian sering melalaikan mereka, berikanlah mereka pada manusia lain yang lebih pantas merawatnya. Rawatlah mereka sebagaimana mestinya. Kalau tidak, "peliharalah" boneka saja. Jangan sia-siakan hidup hewan-hewan itu. :')

Friday, September 19, 2014

Beautiful song that will make you dream about journeys




Brand New Day -- Kodaline

Well it's your hometown
I think I've outgrown
I wanna travel the world but I, I just can't do it alone
So I'm just waiting on fate to come
Wrap around me
Think about all the foreign places we could be

I'll be flicking stones at your window
I'll be waiting outside' till you're ready to go
Won't you come down, come away with me
Think of all places we could be
I'll be waiting, waiting on a brand new day

Riding on waves, walking on sands
Digging in caves to find the treasures of the land
And if we find gold
We'll just throw it away
We can write stories 'bout the journeys that we made
(We could be big in Japan)

I'll be flicking stones at your window
I'll be waiting outside till you're ready to go
Won't you come down, come away with me
Think of all places we could be
I'll be waiting, waiting on a brand new day

They said they'll keep me here
But I couldn't do another year
I said I'll see you soon
But I whistle to a different tune

Think of all places we could be
Think of all people we could meet

I'll be flicking stones at your window
I'll be waiting outside till you're ready to go
Won't you come down, come away with me
Think of all places we could be
I'll be waiting, waiting on a brand new day

Monday, September 15, 2014

(Akhirnya) Aku (Pernah) Kutuaaaaaaan!!!

Sesuai dengan judulnya, gue mau cerita tentang pengalaman kutuan. Mungkin banyak orang mengalami kutuan ini ketika masih bocah--zaman TK/SD, waktu masih sering main lari-larian ama anak-anak tetangga, guling-gulingan di jalan, main petak umpet di tong sampah (ini kegiatan gue zaman SD tiap sore)-- gara-gara ketularan teman biasanya. Tapi gue, yang menghabiskan masa kecil gue dengan bahagia sama anak-anak tetangga rumah, justru nggak pernah kutuan waktu bocah.

Dengan bangga, gue lulus dari masa kanak-kanak dengan status TIDAK PERNAH MEMAKAI PEDIT*X.

Dan karena nggak pernah mengalami kutuan itu juga, selama ini gue nggak paham gimana rasanya kutuan. Kata orang gatelnya kelewatan sampe rasanya kepala lo kebakar. Ada juga yang merasakan langkah-langkah si makhluk di kulit kepalanya. Hih jijik. Tapi yaa tetap aja gue nggak kepikiran kayak apa rasanya kutuan dan gimana bentuk kutu itu sebenarnya. Bahkan yang namanya kutu rambut gue anggap sebagai hewan mitologi, yang nggak jelas eksistensinya di dunia ini. Ahahaha.

Sampai akhirnya, Sabtu 6 September 2014, beberapa pekan sebelum usia gue resmi menginjak 21 tahun......
GUE
MENEMUKAN
KUTU
DI
KEPALA
GUE.

Jijik ye? Gue juga terhenyak selama beberapa saat ketika pertama kali meyakini hewan yang nyempil di kuku jari gue itu K-U-T-U.

Mungkin siapapun yang baca postingan ini akan menyangka gue males keramas, jarang mandi, nggak pernah sisiran, atau apalah. Tapi gue nggak pernah males keramas, bahkan gue boros sampo. Keramas hampir tiap mandi, mandi (minimal) sekali sehari. Nangor dingin coy, mager juge keles mandi sering-sering. Jadilah gue keramas nyaris tiap hari. Setidaknya dua hari sekali. Kalau sisiran.....jujur aja gue males. Males mungutin rambut-rambut yang rontok tidak terkontrol. Tapi bukan berarti dalam satu hari gue nggak nyisir sama sekali, minimal kalau mau pergi sama mau tidur selalu nyisir dulu kok. (Keuntungan hijaberz: nyisir nggak perlu ribet :p) Nggak pernah absen bersihin rambut inilah yang membuat gue yakin gue nggak mungkin bakalan kutuan, walaupun sejak mengenakan kerudung seringkali kulit kepala terasa gatal karena keringat. Ketombean mungkin sering ketika nggak cocok pakai sampo tertentu, uban banyak (yes, I'm just like your grandmum), rambut rontok sudah biasa, tapi KUTU? (Had) Never (before).

Sejujurnya, kalau dipikir-pikir lagi tanggal 6 September bukanlah kali pertama gue menangkap basah hewan mengerikan itu. Zaman libur lebaran Juli-Agustus kemarin, gue juga nemu hewan serupa tapi tak sama dengan semut itu di bantal. Gue nggak curiga, dong. Gue kira itu hewan merayap dari tempat tidur gue. Gue nggak merasa gatal kepala yang kelewatan-kelewatan banget kok waktu itu. Lagipula gue kan nggak pengalaman liat wujud kutu. Selanjutnya, gue juga pernah nemu hewan itu di jari gue waktu lagi belai-belai rambut sendiri. Lagi-lagi, nggak terbersit sama sekali di benak gue kalau itu kutu. Entah gue ini polos atau bodoh. Gila ya, sebulan lebih ternyata gue kutuan dan gue nggak sadar....... 

Yang jelas, Sabtu pagi itu gue udah ngeh sama keberadaan kutu di rambut gue, Setelah beberapa menit merenung hampir nangis gara-gara nggak percaya, gue googling-lah, nyari tau gue harus melakukan apa. Beberapa solusi yang gue temukan yaitu sisir serit dan obat anti kutu paling populer: Pedit*x! Ada beberapa blog yang bilang obat ini berbahaya, tapi kebanyakan blog nggak ngasih solusi obat alternatif yang paling ampuh dan bisa ditemukan dengan mudah di kota ini. Pake bahan-bahan tradisional? Duh, gue nggak mau deh berbaik hati ama kutu-kutu yang mungkin udah berkoloni di kulit kepala gue. Sudahlah, bismillah saja, mari racuni hama rambut terkutuk dan terkupret dan terkutukupret hari itu juga. Pagi itu juga, gue pun berkelana Jatinangor mencari Pedit*x dan sisir serit. Alhamdulillah, dua-duanya ketemu, meskipun agak tengsin waktu beli Pedit*x. Ahahaha.

Obat kutu "Pedit*x", sisir serit, dan shower cap penyelamat hidupku
Sampai di kosan, langsunglah gue terapi rambut berkutu gue. Pertama-tama gue sisir dulu rambut gue pake sisir, beralaskan kertas HVS putih di bawah rambut. Sekali serit, dua kali serit, tiga kali......seterusnya gue lakukan dengan harap-harap cemas, masih berharap yang tadi pagi gue temukan hanyalah nyamuk-nyamuk kecil yang udah nggak punya sayap trus nyasar ke rambut gue, Setelah gue anggap cukup, gue angkat kepala gue, melihat ke arah kertas daaaaan........kertas yang tadinya putih bersih itu diramaikan dengan rambut rontok, kotoran putih-putih yang entah ketombe entah telur kutu hiiiii, dan.......tentunya.......
kutu.
kutu.
kutu,
KUTU,
enam-tujuh ekor kutu menggeliat-geliat di atas kertas.

Sisir serit yang gigi-giginya patah gara-gara ganasnya rambut gue :P

Bahkan ketika mengetik post ini gue merasa kepala gue gatel lagi ngebayanginnya :)))

Seketika gue guyurlah rambut gue dengan pedit*x. "HAHAHAHAHA MAMPUS KAU KUTU DAN ANTEK-ANTEKMU!" gue yang depresi liat penampakan kutu menggeliat itu langsung 'mencakar-cakar' rambut yang telah dilumuri pedit*x. Setelah itu, gue diamkan rambut gue seama 3 jam, sambil gue bongkar seprai dan sarung bantal, mukena, kerudung-kerudung yang cuma dipake sebentar terus dijemur di jemuran depan kamar, handuk, pokoknya semuanya gue lempar ke ember pakaian kotor yang besoknya gue rendam pake air mendidih sebelum gue cuci. Gue ganti semuanya dengan yang bersih. Ketika 3 jam dengan pedit*x di kepala berlalu, gue bilas rambut gue pake air bersih tanpa sampo (katanya sih bahaya kalo abis pake pedit*x langsung pake sampo. katanya.) dan gue keringkan. Udah kelelahan seharian itu menghadapi kutu, gue pun langsung tidur.

Minggu paginya, barulah gue keramas. Sambil dikeramasi, sambil diserit lah itu rambut. Bahkan tadinya gue mau melumuri sisir serit dengan cuka kalau tanda-tanda gatal masih terasa di kepala. Tapi di kosan nggak ada cuka, dan gue males beli. Yasudah, cukup dikeramas dan dipakaikan kondisioner, Setelahnya, gue keringkan rambut, lalu kembali menyerit di atas kertas HVS. Alhamdulillah, bersih :') Dan anehnya gue merasa kepala gue enteeeeeeeeng bengeeeeet. Enak banget rasanya. Ternyata selama beberapa minggu terakhir yang gue rasakan di kepala memanglah GATAL PARAH. "Setelah kenyamanan datang, barulah kita paham seperti apa yang tidak nyaman itu terasa."

:)))

Beberapa hari setelahnya gue masih melakukan treatment yang sama, dengan sisir serit dan tanpa pedit*x. Gue sampoan setiap hari nggak pake pengecualian, gue nggak akan pakai kerudung sampai rambut gue kering total, dan gue memastikan selalu mandi pagi dengan lindungan shower cap biar rambut gue tetap kering kalau mau kuliah pagi. Selain itu, gue juga merencanakan untuk memotong rambut serta creambath akhir pekan ini.

Yap, setelah 9 hari, gue menemukan kenyamanan di kulit kepala gue yang baru gue sadari nggak pernah gue rasakan sebulanan terakhir. :') :') Dan alhamdulillahnya lagi, hal yang gue takuti dari efek samping pedit*x seperti alergi nggak kejadian di diri gue,

Gue masih nggak tahu darimana itu kutu berasal. Feeling gue, memang gue nggak pedulian sama rambut selama beberapa waktu terakhir kemarin. Gue nggak mau nuduh ketularan dari siapa-siapa karena teman tidur gue cuma BEBEAR astagaaaa dan dia nggak gue cuci lagi. Pokoknya gue bersyukur pernah mengalami syok akibat kutuan, karena gue sekarang jadi lebih peduli ama rambut gue :)

Terus kenapa gue share cerita ini? Apa gue nggak malu? Nggak, gue nggak malu. Gue nggak malu akhirnya pernah merasakan kutuan setelah lebih dari 20 tahun nggak pernah tahu wujud kutu seperti apa. Yeah, akhirnya aku pernah kutuaaaaan!~

Tuesday, April 1, 2014

Bangun lebih pagi atau tidur lebih larut?

Terinspirasi dari sebuah twit yang kubaca di linimasa kemarin malam, yang isinya kurang lebih bahwa orang yang mem-publish twit tersebut lebih memilih untuk bangun subuh daripada begadang sampe tengah malem, terutama menyangkut tugas. Kalau pertanyaan ini ditujukan ke aku, aku bakalan jauh..jauh..jauh memilih untuk begadang sampe pagi! daripada tidur dulu malemnya baru kemudian bangun pagi untuk mengerjakan tugas atau sekadar belajar untuk UTS.

Bangun pagi bukan kegiatan favoritku. Aku benci melanggar jam biologisku unuk bangun. Masalahnya sesungguhnya bukan sekadar benci tapi tidak mampu! aku tidak punya daya untuk melanggar dentang jam tersebut. Jam biologis ini selalu berdentang pada pukul 8 pagi, dan sialnya aku selalu masuk kelas--sejak SD hingga sekarang!-- sebelum pukul 8. Alhasil, jam biologis itu harus setengah mati kulanggar demi daftar kehadiran yang tidak ternoda. Walaupun seringkali tetap usahaku untuk membuka mata tidak membuahkan hasil.

Mama selalu bilang ini semua karena kebiasaanku tidur larut malam. Sialnya, tidak peduli jam berapapun aku terlelap, aku selalu bangun pukul 8 pagi....... Pernah beberapa seringkali aku tidur selepas solat Isya dengan harapan keesokan paginya aku mampu bangun solat Subuh sebelum matahari terbit. Ternyata? tidak ada pengaruhnya. Aku bangun pukul 8 pagi. itupun cuma sanggup bangun demi mematikan alarm.... Mengesalkan.

Lain halnya dengan malam hari. Semengantuk apapun aku pada saat itu, selama aku memaksa diriku untuk tetap terjaga hingga segala urusanku hari itu selesai, maka aku akan terjaga. Bukan, aku bukan orang yang mengalami gangguan tidur. Aku tidak insomnia, aku tidak berbicara atau berjalan dalam tidur. Aku adalah penderita gangguan bangun!

Lalu apa yang salah? Apa yang salah dengan orang yang pikirannya aktif di malam hari dan baru dapat berhenti terjaga pada pagi hari? Banyak sumber mengatakan bahwa kebiasaan seperti ini tidak sehat, tapi bukankah para ahli justru berkarya di waktu-waktu yang tidak normal bagi ukuran jam biologis manusia? Bukankah memang telah dibuktikan bahwa otak manusia lebih kreatif pada jam-jam di mana mereka biasanya sedang terlelap--dini hari?

Tidak, aku tidak merasa lebih kreatif atau lebih cerdas pada dini hari. Tetapi memang kurasa pikiran ini lebih segar jika dipaksa bekerja pada jam-jam ketika semua orang terbuai dalam mimpi mereka masing-masing. Sebaliknya, sesegar apapun fisikku pada pagi dan siang hari, pikiranku selalu terasa buram. Maybe that's why I used to be the confused one in the school.

So, don't force someone to be an early-bird if she's a night-owl! :)