Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts

Thursday, May 28, 2015

[Story] Itu mamakku...

"Mamak, aku lapar." Si Bungsu terlihat gelisah.

"Aku juga lapar, mak," ujarku pelan.

"Ya..ya..nanti mamak cari makanan untuk kalian, ya." Mamak mengelus perut gemuknya seraya bergerak malas-malasan.

"Aku yakin mamak tidak akan mencari makan lagi untuk kita hari ini. Kita akan kelaparan lagi." 

"Ssshh...nanti mamak dengar. Iya, nanti kakak yang cari makanan buat kita bertiga ya."

Mamak terlihat menajamkan pendengaran. "Mamak bisa dengar ucapanmu, ya. Kamu anak tidak tahu terima kasih, ya. Tidak sopan berbicara seperti itu tentang orang tua!" hardik mamak. Ia terlihat sebal.

Tak berapa lama mamak bangkit dari tempat tidurnya. Mungkin ia akhirnya akan mencari makan untuk kami.

***

Siang itu, aku sedang bermain dengan si Bungsu. Kami berkejaran, dengan bercanda saling mencakar, tertawa-tawa. Tak lama, kakakku datang. Bersamanya, ia membawa makanan. Sisa-sisa dari kantin. Aku dan si bungsu bersorak, menyerbunya.

"Kakak kira kalian kelaparan, tetapi kalian masih saja asyik berkejaran," goda kakak sambil tersenyum melihat tingkah kami.

Ah kakak, kalau saja tidak ada kakak, mungkin kami sudah mati kelaparan.

"Mamak kenapa belum kembali, kak?" tanya si Bungsu.

"Mungkin masih mencari makan."

"Hey kalian! Makan sampah lagi? Ya ampun, tadi ibu kalian berebut ikan segar denganku. Ia yang mendapatkannya. Mungkin sebentar lagi ia pulang. Jangan kalian makan sampah itu, bersabarlah!" tetangga kami yang sudah tua berseru dari seberang jalan. Ia terkekeh pelan.

"Asyik, mamak akan bawa makanan!" Si Bungsu meninggalkan makanan yang dibawa kakakku.

"Kamu yakin tidak ingin makan ini? Jatahmu buatku saja ya,"

"Ya, untukmu saja, aku akan makan makanan yang bergizi. Aku tidak mau tubuhku sakit-sakitan terus seperti ini."

Adikku terdengar begitu angkuh, tetapi kakakku hanya tersenyum sambil menggosok hidungnya. Kami pun melanjutkan makan 'sampah' itu. Selesai makan, aku beranjak meninggalkan saudara-saudaraku. "Aku ingin jalan-jalan sebentar ya."

***

Langkah kaki membawaku ke selasar gedung. Tidak biasanya tempat itu sepi. Biasanya aku harus pontang-panting menghindari injakan kaki-kaki manusia.

"Enak banget nih kucing tidur di tengah jalan. Tanpa beban banget hidupnya. Mau deh gue jadi kucing," terdengar suara geli wanita muda.

Ia tertawa sendiri. Gila, pikirku.

Aku berjalan ke arahnya yang berdiri membelakangiku.

"Foto dulu ah, upload ke Path."

Dari balik kedua kakinya yang panjang, kulihat sosok yang amat kukenali.

Itu mamakku.

Tertidur di tengah jalan di selasar gedung itu. Potongan tulang ikan berserakan di sekelilingnya. Ikan yang disebut tetanggaku tadi; ludes.

Itu mamakku....

Si Bungsu pasti akan amat kecewa.

Friday, May 15, 2015

[Story] Suatu Siang di Rumah Aman

Rumah Aman, Itulah nama yang mereka berikan bagi rumah ini. Rumah yang akan melindungiku dan ketiga saudariku untuk sementara, selama kedua orangtuaku menjalani proses pemeriksaan di kantor polisi akibat dugaan menelantarkan anak-anaknya. Dugaan menelantarkanku dan adik-adikku.

"Adikmu, Ina, ditemukan Bu Darsih dan putranya sedang duduk sendirian di depan rumah kalian maghrib-maghrib kemarin. Masih pakai seragam sekolah, kotor sekali. Rambutnya berantakan, wajahnya coreng-moreng ternoda tanah. Kasihan dia," ujar Bu Rumi, salah satu pengurus Rumah Aman kemarin pagi. "Entah apa yang telah Ina lalui. Tapi ia kuat, tidak menangis."

Tetanggaku menjelaskan tidak bisa menemukan siapa-siapa di rumah. Pintu rumah terkunci, gembok menggantung di pagar. Sia-sia mereka mencoba membunyikan bel. Tidak ada siapa-siapa di rumah kami.

Terang saja, ayah dan ibu seharusnya masih berada di Singapura hingga akhir minggu depan. Ibuku kembali diterapi. Penyakit iblis yang menghisap kesehatan mentalnya perlahan-lahan kembali bagaikan sel-sel kanker. Kejiwaan ibu memang sering terganggu setelah melahirkan Ina, si adik bungsuku, 8 tahun yang lalu. Seharusnya, kami dititipkan di rumah tante Ami. Tetapi ia terlalu sibuk untuk mengawasi kami.

Ketika aku dan si kembar berada di sekolah hingga sore hari, Ina pun bebas pergi ke manapun teman khayalannya mengajaknya bercengkrama.

"Rei, ayo makan! Ajak Gia, dan Avi juga," suara Bu Rumi terdengar dari lantai bawah. Ina sudah di lantai bawah. Aku pun beranjak keluar kamar, menuju pintu kamar si kembar.

"Muak gue sama keluarga kita. Selama ini gue udah maklumin si klepto, ibu yang depresi, ditambah lagi Ina yang makin gila. Tapi sekarang, kita di penampungan. Orang tua kita di kantor polisi atas tuduhan nelantarin anak. Malu banget gue kalo sampe temen-temen gue yang tau!" bisik-bisik penuh amarah itu terdengar dari dalam kamar. Suara Gia.

"Mungkin benar, semua ini kutukan Tuhan buat ayah," isak lirih Avi

Oh ya, sudahkah kusebutkan bahwa ayahku mantan pecandu narkoba?

"Kutukan buat kita, Vi. Buat kita!" Gia kian meledak.

Aku memutuskan untuk mengabaikan mereka dan langsung melangkah lurus-lurus ke arah tangga dan menuju ruang makan. Kupandangi jam porselen di atas meja ruang tengah. Pukul 2 siang. Sudah terlampau siang untuk makan. Tetapi ketepatan waktu bukan prinsip utama Rumah Aman.

Omong-omong, jam porselen itu bagus. Aku menginginkannya.

--15/5/15. 00;15

Thursday, April 16, 2015

[Story] Game Over

Semuanya berubah ketika ia datang. Hidupku jadi berantakan. Dia benar-benar pembawa malapetaka. Kalau saja aku mampu, ingin sekali rasanya kucakar wajah tidak bersalahnya. Cih! Sekarang aku benar-benar telah bertemu dengan serigala berbulu domba.

Selama ini, aku selalu menjadi satu-satunya. Lita selalu mencintaiku. Hanya cinta padaku. Lita tidak pernah membagi perasaannya pada siapapun selain diriku. Aku juga sangat menyayanginya. Sejak ia bisa mengingatnya, aku selalu berada di sisi Lita. Ia butuh aku sepanjang hidupnya. Begitu pula aku.

Kedatangan binatang kotor itu ke kehidupan Lita bukanlah tanpa antisipasi dariku. Aku yakin, Lita akan mencari yang lain. Aku sudah tidak tampan lagi. Hari-hari bahagiaku bersama Lita turut mengikis keindahan ragaku. Tetapi aku tidak menyangka bahwa ia datang merebut segalanya tidak lama setelah kami tinggal di rumah baru. Seharusnya kepindahan kami berarti ia masih ingin tinggal bersama denganku, bukan? Seharusnya kepindahanku bersamanya berarti ia masih berharap akulah yang menemaninya mengisi lembaran baru hidupnya, menjadi bahu tempat ia bersandar kala ia berjuang beradaptasi dengan kehidupan barunya sebagai wanita dewasa yang pastilah berat. Aku sungguh tidak mengerti mengapa tiba-tiba ia membuangku seperti ini.

Beberapa waktu terakhir, hubungan kami memang merenggang. Aku dan Lita tidak lagi bercengkrama sesering dulu. Kesibukan merenggutnya dariku. Bukan salahnya, ia hanya ingin mengejar cita-citanya. Ia bekerja begitu keras. Seringkali aku menemukannya masih terjaga hingga fajar menjelang, bergumul dengan kertas-kertas, buku-buku, dan lelehan tinta pulpen yang mengotori kedua tangan cantiknya. Kedua tangan yang biasa mendekapku penuh cinta setiap malam... Ah, aku rindu Lita. Saat itu, ia masih menyayangiku, aku tahu itu. Aku tidak bisa menyalahkannya jika ia berubah perlahan-lahan. Ia hanya tumbuh dan berkembang --sesuatu yang tidak dapat terjadi pada diriku.

Pembawa bencana itu datang pada suatu sore. Seseorang membawanya untuk berkenalan dengan Lita. Kau harus tahu betapa terlukanya hatiku saat mendengar jeritan kebahagiaan Lita kala menyambutnya. Saat itu aku segera tahu bahwa tidak ada lagi diriku di hatinya.

Segala kenangan yang Lita miliki tentang kami seketika musnah.

Aku tidak lagi ada dalam hidup Lita. Iblis berambut coklat itu mengambilnya dariku.

***

"Billy sayang, kamu masih tetep bau debu. Padahal kemarin udah mandi bareng Brownie. Bulumu juga udah kusut banget, walau kamu masih lucu sih. Kamu masuk lemari aja ya, nanti kalau ada baksos di kampus, Lita sumbangin kamu ke anak-anak yang butuh mainan. Terima kasih sudah menemani masa kecil Lita, sudah mau nemenin Lita di rumah kos jauh dari Mama-Papa. Lita selalu sayang kamu Billy!"

Lita mendudukanku dalam lemari. Brownie menatapku dari kejauhan dengan wajah riang tanpa dosanya. Senyum murung Lita dan wajah Brownie adalah hal yang terakhir kulihat sebelum Lita menutup pintu lemari.

Mungkin kegelapan lemari ini hanya sementara. Tetapi hidupku telah menjadi gelap selamanya.

Goodbye, Billy! (pic from wall.alphacoders.com)

Monday, November 7, 2011

Hancur


Aku menatap kedua matanya lekat-lekat dengan tatapan penuh kebencian. Lalu kusapukan pandanganku ke seluruh tubuhnya, tangannya yang di gips seolah-olah sedang menantangku berduel sedangkan kaki palsunya turut serta menertawai wajahku yang seperti harimau mengaum. Jari-jemari tanganku terkepal begitu kuat, ingin sekali aku meninju wajahnya.

Kemudian ia bergerak tertatih-tatih ingin menjauh dariku. Mungkin ia sadar betapa besar kebencianku padanya. Ia mulai menampakkan wajah ketakutan, membuat tanganku semakin gatal ingin menampar pipinya. Ia menjauh, tak mungkin bagiku menyentuhnya lagi. Kugenggam batu sekepalan tangan, tekadku untuk melukainya semakin kuat. Emosiku sudah sampai keubun-ubun...

“PRAAAANG!”

Suara cermin pecah tiba-tiba. Batu telah kulemparkan. Wujudnya kini tak terlihat lagi. Ia telah hancur berkeping-keping. Dan seketika aku tersadar.

Aku membunuh bayanganku sendiri.