Showing posts with label random. Show all posts
Showing posts with label random. Show all posts

Thursday, September 3, 2015

Krismon Dalam Kacamata Beruang



Sebenarnya, pengetahuan gue soal permasalahan ekonomi nol besar banget. Iya, udah nol, besar, banget pula. Jadi gue nggak pernah minat ikut-ikutan komentar. Tapi meme ini bikin geli. Wkwkwk. Permainan bahasanya yang bikin gue geli, meskipun harusnya ejaan yang benar "mengkhawatirkan". Bisa aja ya orang dapet ide buat bikin meme-meme plesetan macem gini. Kreatip!

Balik lagi karena pengetahuan gue yang minim soal ekonomi, gue nggak paham kenapa rupiah sekarang terus melemah. Gue nggak paham kenapa melemahnya rupiah saat ini belum bikin orang-orang rusuh seperti tahun 1998. Yang gue paham, belakangan ini kondisi keuangan gue memang melesu. Bayangin aja, gue punya dua rekening di bank, yang satu buat gue bobol setiap hari, dan yang satu lagi buat gue nabung: rekening yang nggak pernah diganggu gugat isinya. Wkwk. Awalnya, di rekening tabungan ini, jumlah uang gue bisa mencapai 3x lipat jumlah uang di rekening satunya.

Mungkin rupiah memang sedang menguatirkan. Belakangan, jumlah uang di rekening tabungan gue bahkan lebih sedikit dari jumlah di rekening uang makan.........


Asli, hidup permahasiswaan-tingkat-akhir-yang-skripsinya-masih-juga-belum-kelar gue makin menguat-irkan.

Nggak cuma itu. Dulu, tiap dapet kiriman dari nyokap, uang segitu cukup buat hidup gue sebulan, bahkan cukup untuk kehidupan yang dilengkapi dengan acara jalan-jalannya dan tentunya bolak-balik belanja buku di Gramedia. Tak disangka, tak dinyana. Terakhir kali gue belanja buku adalah 3 bulan lalu. Iya. Mungkin inilah efek krisis ekonomi Indonesia bagi kantong gue. Harga novel terbitan lokal yang gue incar jadi di atas 70ribuan semua. Biasanya 200ribu bisa dapet 2 buku impor, sekarang bisa beli 1 aja udah alhamdulillah.

Alhasil, pinjam-meminjam buku belakangan ini jadi pilihan nomor satu gue. Slogan "selama bisa punya sendiri, kenapa harus pinjam?" yang bertahun-tahun lamanya gue junjung tinggi kini mengalami perubahan drastis: "selama bisa pinjem, ngapain beli?"

Mumpung tulisan ini memang ngalor ngidul, gue mau sekalian cerita 'musibah' mengalami gue kemarin. Masih berkaitan dengan minjem buku dan duit, kok.

Jadi gini. Gue adalah mahasiswa semester lewat dari batas akhir yang butuh buku untuk mengerjakan skripsi. Dasar mahasiswa Indonesia, gue pun cari pinjaman buku di perpustakaan universitas. Berhubung skripsi nggak kelar-kelar, buku-buku itu pun nggak gue kembalikan. Yah, lagian juga salah siapa bahwa letak perpustakaan universitas berjarak satu jam perjalanan naik travel seharga 40ribu pulang-pergi dari kampus gue? -_-

Akhirnya gue memutuskan bahwa sudah terlalu lama buku ini gue pinjam.
Akhirnya gue sadar bahwa menunggu gue sidang hanya akan membuat denda keterlambatan pengembalian buku semakin membengkak.
Kemarin, gue bela-belain khusus ke kota sebelah untuk mengembalikan buku tersebut.
Tahukah kamu, berapa denda yang harus saya bayarkan?

Seratus enam puluh ribu rupiah.
Seratus enam puluh ribu rupiah.
Seratus enam puluh ribu rupiah.
SERATUS ENAM PULUH RIBU RUPIAH ADALAH SEHARGA SATU BUAH NOVEL IMPOR IDAMAN SAYA

Baiklah, mungkin gue AKHIRNYA paham seperti apa rasanya ketika krisis melanda perekonomian kehidupan gue.

(P.S.: ini novel-novel inceran gue saat ini.....saat-saat kere ini)


Saturday, February 14, 2015

Warning: This is a spam and may contain hateful words.

Here I am, ready to talk rubbish grumpily because even tho Twitter is already half-dead now it stays as a micro-blogging and just allows me to write 140 characters or less, and that won't satisfy me right now as I want to blurb things out...well. This blog would better keep hidden.

Jadi, barusan aja gue nemu sebuah akun Twitter milik cewek Indonesia yang sepertinya hardcore fan Borussia Dortmund. Reading those tweets seriously make me miss my old ages on Twitter.... I'm such a spammer, tweeting about the team --Germany NT and Werder Bremen-- most of the times, retweeting and commenting all of their news, then chit-chatting with other fangirls. Yah, meski bahasanya beda. Gaya bahasa gue emang nggak pernah berubah kalo lagi fangirlingan atau ngetweet biasa, nggak kayak kebanyakan mereka yang biasa nangkring di fanfiction lounge or Tumblr. In short, I felt like...back to those moments, by reading this person I was stalking's tweets.

Kembalilah gue mengenang masa-masa alay gue di Twitter. Haha, if doing fangirl stuffs over those beautiful men is the definition of alay, then I can assure you I'll be alay forever.  Dan sembari mengenang, timbul hobi ngejudge gue. Yak, gue ngejudge: serius lo fans Dortmund? Or just some random person who has been high of their overnight  victory and their good-looking players? Hm? Tell me, how long have you been their supporten? Since 2014, after the Germany's 4th star?



Haha, I'm such a bitch. Whatever.


Jadilah gue kepo-kepo lebih lanjut. Ternyata yah, kurang lebih benar: awal tahun 2014 gue nggak menemukan hal-hal berbau BVB di sosmednya. Beda sama sekarang. Fix ini sih, fix, dia kebawa euphoria piala dunia 2014 dan anak-anak Jerman jadi korbannya. Kemudian, karena sebagian besar pemain muda bertalenta Jerman adalah milik Dortmund......jadilah mereka fans Dortmund. Anyway, gue mungkin dulu juga begini. Kebawa euphoria piala dunia 2006, jadi fans Werder. BEDANYA, 2006 bukan tahun kejayaan Werder. (yaa klub CL sih, tapi kebanyakan fans Jerman yang 'lahir' pada tahun itu jadi fans Bayern, and I can't complain) Dan gue udah ngalamin ketemu fans-fans baru yang bertingkah I-know-better-than-you akibat 2008, 2010, 2012... Anyway, that's supposed to be ok, they don't insult me. But these people really annoy me as they think their club is the best-est because theirs are famous. THEY JUST KNEW THE CLUB LESS THAN 1 YEAR THAT I'M QUITE SURE I KNOW IT BETTER THAN THEM!





That doesn't mean I love that club, but they behave like a pro while they're not. I'm sure they're just overnight fangirl!

Next. Kekepoan gue membawa gue pada tanda-tanda bahwa cewek itu mengenal anak-anak gue dari --i don't know the term of it-- interaksi lintas fandom? Dia memang fangirl garis keras sedari dulu, terhadap segala drama korea, dan hal-hal semacam itu yang nggak gue pahami dan sedari dulu (hingga saat ini) bikin gue muak. Gue bisa membayangkan, kehidupannya di situs-situs fanfic telah membawanya pada arus fandom Jerman/BuLi/BVB yang memang sedang keras ketika world cup.

Kemudian dia beralih.

Dor! Jadilah ia what-so-called "hardcore fan of Borussia Dortmund".




Fenomena ini anomali buat gue, karena kebanyakan fans cewek yang suka "beginian" (football stuffs maksudnya) pada pertengahan tahun 2000 cenderung membenci hal-hal "begituan". (let's say...sort of kpop fangirl). Dulu, kebanyakan partner fangirling gue memandang remeh mereka, dan nggak ada yang punya dua kepribadian macam si cewek-yang-barusan-gue-kepoin ini: fans bola sambilan fans koreaan. Rupanya virus laki-laki-joget-joget ini terus berkembang dan menjangkiti "kesucian" football fandom-nya kaum hawa yah...

:)))))

Sejujurnya gue udah nggak suka berpikir kayak gini lagi. Jaman-jaman Twitter ngehits sih sering banget gue nyinyir di timeline. Bukan zamannya lagi, umur gue udah segini. And I'm not really into footie anymore, I just follow a very few matches except for the nationalmannschaft's --I have no courage to miss them. But what can I say, I'm in a very random mood today and I accidentally saw this girl in my timeline. Then... pop! This pathetic thought comes out of the blue on my mind :)))

Partner fangirlingan gue dulu udah pada tuir sih. Udah pada pensiun. Coba kalo enggak, gue bisa nyinyir bareng mereka, gue rasa. Ahaha.

Monday, December 1, 2014

Sekelumit Kisah Refleksi Diri Anak Magang

Beberapa pekan belakangan, rutinitas gue berwarna. Gue nggak cuma berkutat sama setumpuk jurnal dan tugas kuliah, gue nggak cuma bolak-balik kampus-kosan--gue ngantor. *cielah gaya bet kiw* Iya, keharusan untuk menunaikan job training demi kepentingan 3 sks membuat hidup gue semester ini tidaklah gabut. Sangat tidak gabut.

Alhamdulillah, gue (kami, lebih tepatnya) dapet tempat jobtre yang tidak melihat diri kami sebagai anak-magang-sasaran-empuk-buat-dijadiin-OB-darurat. Di tempat ini, kekayaan intelektual kami dihargai *ahzek* atau setidaknya kerjaan kami nggak cuma mengkliping, memfotokopi, atau membuat kopi. Di satu sisi, gue bersyukur banget. Di sisi lain, jiwa gue yang ala-ala grumpy cat mulai bergejolak: gue nggak siap kerja. Loh, kenapa?

Masalahnya bukan karena gue merasa panik karena tidak memiliki skill (walaupun memang gue tidak memiliki skill), tetapi karena gue merasa bakalan nggak kuat kalau harus terkungkung dalam kehidupan kerja yang supermembosankan-walau-gue-memang-membosankan 8 jam sehari, 5-6 hari seminggu, 25-26 hari sebulan, 12 bulan setahun tanpaaaaaa ada istirahatnya. Apalagi, selama jobtre gue belajar entah bagaimana gue akan menjadi orang-orang yang harus siap andai waktu hibernasi gue di akhir pekan diambil juga untuk kerja. Craaaap! Terus kapan gue bisa tidur-sampe-bego? Kapan gue bisa ber"me-time"?

Kalau udah kayak gini, gue jadi amat sangat luar biasa bersyukur mengenal bangku kuliah: seminggu kuliah cuma 4 hari paling sering. Bahkan kutukan tugas seabrek-abrek yang datang menghampiri silih berganti pun bukanlah masalah besar, karena semua itu ada akhirnya: akhir semester. Kamu tahu apa yang terjadi di akhir semester? UAS. BUKAN. Libur, maksud saya. Libur dua bulan lamanya. Libur sampe otak di jempol kaki, jempol kaki di otak saking udah kelewat blo'onnya, hingga nggak ada materi kuliah yang nyangkut dari semester sebelumnya. Intinya, selalu ada air dingin yang siap menyiram tubuh mahasiswa-mahasiswa yang kepanasan akibat api neraka yang disulut oleh para dosen. Dan sialnya, air dingin itu mampet begitu akan disiram ke tubuh kebakar-deadline-kerjaan para orang kantoran.

Maybe after all, college life is the best moment of my life: the possibility to runaway from this never-ending-tiredness is much bigger than in any other life.

Friday, October 17, 2014

Larangan yang Sangat-Membuat-Tergoda untuk Dilanggar

This post, as usual, is just my random thought. Tidak ada niat sama sekali untuk mempertanyakan dan menyangsikan kebaikan dari larangan-laranganNya atau mencoba melanggarnya. Tidak, sama sekali.

Postingan ini berawal dari pengalaman KKN saya. Sewaktu KKN dulu, untuk mengusir kebosanan, saya dan teman-teman sering bermain Truth or Dare. Pilih salah satu, menjawab pertanyaan teman lain dengan jujur atau melakukan tantangan. Kebanyakan dari kami memilih Truth. Bukan karena kami enggan melakukan Dare, tetapi berada di satu atap (dua atap, anak-anak laki-laki tinggal di rumah terpisah) selama sebulan dengan teman-teman yang baru dikenal beberapa hari saja membuat kami ingin mengenal satu sama lain secara lebih dekat. Permainan ini biasa kami lakukan untuk alasan tersebut.

Kembali ke permainan Truth or Dare. Berbagai pertanyaan yang sifatnya investigating dan kepo sering terlontar di antara kami. Terkadang pertanyaan itu lucu, tidak penting, namun seringkali juga cenderung filosofis dan serius. Sebuah pertanyaan mengusik benak saya hingga 7-8 bulan setelah selesai KKN. Pertanyaan itu, sayangnya, tidak pernah diajukan pada saya.

"Kalau lo diizinkan melakukan satu hal yang merupakan dosa satu kali sepanjang hidup lo, dosa atau larangan apa yang bakal lo lakukan?"

Saya lupa jawaban apa yang diberikan teman-teman saya pada pertanyaan seperti itu. Kalau tidak salah ada yang menjawab "mau ngedugem semaleman ampe puas". Entah apa jawaban lainnya. Tapi sejak pertanyaan itu terlontar di antara kami, saya telah memiliki satu jawaban.

Dosa atau larangan yang paling ingin saya lakukan adalah memelihara anak anjing untuk kesenangan semata: menjadikannya teman bermain, merawatnya, menyayanginya, membuatnya menemani saya kemanapun saya pergi.

Saya muslimah, dan saya tidak akan mencoba membuat pembenaran bagi larangan tersebut, seperti mungkin banyak orang lain. Larangan tersebut sudah jelas bagi saya: selain untuk berburu dan melindungi hewan ternak, anjing tidak diizinkan untuk dipelihara. Jangan mendebat saya dengan pertanyaan terkait dalil atau ayat, kalian bisa menemukannya di halaman blog lain, bukan di sini. Jangan pula mendebat saya sebagai manusia berpikiran sempit atau apa. Your judgement is yours. Keep it as yours. Ya, saya tahu memelihara anjing untuk kesenangan adalah sebuah larangan dan saya percaya larangan tersebut pastilah memiliki kebaikan. Saya telah dan akan selalu berusaha keras untuk tidak melanggarnya --tidak peduli betapa tergodanya saya untuk melakukannya.

Saya sendiri tidak pernah memiliki kawan-kawan mamalia berambut yang lazim dijadikan peliharaan di rumah. Kucing, hamster, kelinci...tidak pernah. Keinginan untuk memelihara anjing --sekalipun tidak dilarang-- mungkin hanyalah tinggal keinginan. Saya mencintai mereka. Saya tidak pernah tahan untuk tidak membelai hewan-hewan tersebut jika saya melihatnya di jalan atau di rumah orang lain--kecuali anjing. Tapi saya tidak sampai hati untuk memeliharanya. Kasihan. pikir saya. Kasihan jika sewaktu-waktu saya lalai menjaganya dan ada hal-hal yang tidak saya inginkan terjadi padanya. Sekalipun saya mampu menjaga hewan tersebut dengan baik sepanjang hidupnya, tentu akan tiba akhir masa hidup mereka. Saya tidak sanggup kehilangan mereka dari pelukan saya. Melihat sapi atau kambing disembelih saat Idul Adha saja sering membuat saya pilu. (Hehe, tapi tetep aja dimakan dagingnya :P) Karenanya, saya belum pernah mencoba memelihara hewan apapun.

Lalu, kenapa anjinglah hewan yang --dalam hati saya-- paling ingin saya pelihara?

Beberapa jenis anjing sangat menyerupai anak-anak beruang. Ya, itulah alasannya. Beruang adalah binatang kesayangan saya nomor satu yang hanya bisa saya lihat dari kejauhan di kebun binatang atau gambar-gambar di internet. Beruang itu besar, kuat, independen, sangat mampu mempertahankan dirinya, namun tetap terlihat lembut dan menyenangkan. Huge yet hug-able. Perlindungan seekor ibu beruang terhadap anak-anaknya juga selalu membuat saya ingin menjadi seperti ibu beruang bagi anak-anak saya kelak *ahzeg*.

Memang, tidak semua anjing terlihat mirip dengan beruang, tetapi pada umumnya kebanyakan anjing mampu membuat saya jatuh sayang, karena mereka juga mamalia yang kuat, perkasa, dan mandiri, tetapi tetap bisa menjadi sangat loyal dan protektif terhadap manusia yang menyayanginya. Tidak hanya anjing yang berukuran besar, banyak jenis anjing ukuran kecil pun memiliki sifat itu. Astaga, rasanya membahagiakan jika kita "disayangi" kembali oleh makhluk itu. Makhluk cerdas, anjing itu.

:')

Begitulah. Lagi-lagi, postingan ini hanya random thought saya seperti posting-posting saya biasanya. Pesan saya bagi siapapun yang memelihara anjing atau hewan apapun juga, sayangi mereka dengan baik. Jika kalian sering melalaikan mereka, berikanlah mereka pada manusia lain yang lebih pantas merawatnya. Rawatlah mereka sebagaimana mestinya. Kalau tidak, "peliharalah" boneka saja. Jangan sia-siakan hidup hewan-hewan itu. :')

Friday, September 12, 2014

Path: Sosmed dengan Spesialisasi Untuk Pamer (?)

Jumat siang-bolong-panas-kering-kerontang (12/9) ini gue berangkat ke kampus buat sebuah mata kuliah, satu dari tiga mata kuliah terakhir yang benar-benar butuh "perkuliahan" sepanjang masa bakti gue sebagai mahasiswa di kampus ini. Bukan satu-satunya kuliah di hari itu sebenarnya, tapi karena matkul sebelumnya juga didoseni oleh dosen ini (sang dosen megang semua kuliah gue yang tersisa semester ini, so...well), jadi rasanya agak-agak "meh". (Beliau juga pasti merasa "meh" karena ketemu kami lagi). Selepas shalat zuhur di masjid kampus, bergegaslah gue ke fakultas karena kelas dijanjikan dimulai sekitar pukul 13.00. Tau-taunya molor sampe jam 13.45. Yeah, as an introductory section of this post, I am trying to describe you how tiring it was to sit on that class and think clearly. So, whatever I wrote here about the lecture, it's just my another random thought.

Dikuliahi Beliau selalu menarik. Dikuliahi, bukan ketika Beliau meminta kami gue untuk berargumen di depan kelas. Oh you know, I'm A-blooded and I'm awkward. Contoh-contoh yang Beliau berikan untuk materi kuliah sangat mudah dipahami karena kekinian dan dekat dengan mahasiswa. Siang ini, waktu diskusi kelompok kecil terjadi diantara kami dengan sang dosen, salah satu teman membahas tentang bagaimana ia menganggap bahwa media sosial Path sering diasosiasikan sebagai media untuk pamer bagi para penggunanya.

Kebiasaan pengguna Path untuk mengunggah momen "place" ke akunnya menjadi contoh yang diberikan teman gue. Dia bilang, orang-orang update cuma ketika berada di tempat-tempat yang mahal, mewah, atau eksklusif....apalah itu, untuk pamer kalau mereka sering mengunjungi tempat-tempat seperti itu. Begitu juga dengan foto-foto yang diunggah. Apalagi, bukan rahasia kalau aplikasi Path hanya bisa dinikmati di smartphone, yang berarti sasarannya kaum menengah ke atas. Makanya, ia sependapat dengan banyak orang kalau Path seringkali digunakan untuk ajang pamer orang-orang berduit. Ditambah lagi, seorang teman lain di samping gue berbisik "makanya gue nggak mau bikin Path". Uh, seriously?

Setelah dia menjelaskan argumennya ini, pastilah ada tanggapan dari dosen. Tapi gue nggak fokus. Gue nggak dengerin gimana jawaban dosen secara keseluruhan, cuma samar-samar nangkep kalau beliau juga lagi melakukan penelitian seputar penggunaan Path. Gue anggep tanggapan beliau sebagai angin lalu, karena seketika itu juga the randomest part of my brain bekerja dan menghasilkan tanggapan pribadi gue akan isu yang dilemparkan teman gue ini. Ingat: tanggapan ini hasil buah pikir bagian random otak gue, jadi yaa random juga hasilnya.

Tanggapan pertama gue adalah seriusan nih cuma Path doang yang dapet penghakiman sebagai sosmed pamer? Gimana dengan Instagram? Oke, mungkin Instagram cuma bisa buat foto sama video, nggak bisa buat pamer "gue lagi di menara eiffel nih". Eh masa?....bisa kok, di foto yang lo unggah ke Instagram kan bisa lo tambahin 'location'. Bisa lo tambahin hashtag macem-macem pula, seringkali hashtag yang agak narsis: #AyuGoesToParis blablabla *lah*. Nah, apa nggak pamer juga tuh namanya? Lagipula, sebelum Path booming, udah ada sosmed update lokasi sejenis kok: Foursquare. Terus kenapa Path yang "dibully"? :)))

Terus, gue juga mikir. Perasaan dari dulu yang seringkali terlintas di timeline gue kala mainan Path adalah gambar-gambar koplak dan gombal. Mulai dari lelucon Khong Guan, nama-nama artis yang diplesetin, dan lain-lain. Kalau benar citra Path sebagai sosmed buat pamer, berarti postingan koplak kayak gitu juga bagian dari ajang pamer-pameran siapa yang lebih lucu gitu? *mind blown*

Teman gue yang tadi dengan bangganya ngomong bahwa citra Path yang dianggap untuk pamer inilah yang membuat dia ogah membuat akun Path juga bikin gue bingung. Bukankah dengan berceloteh bahwa dia nggak mau pamer adalah bentuk pamer dirinya sendiri? Iya, dia pamer kalo dia gak punya Path karena gak mau pamer. *Pamerception*

Bukannya ngebelain Path, gue sendiri sebenarnya tim Twitter garis keras karena sejauh ini cuma di Twitter gue bisa nongkrongin livescore pertandingan-pertandingan Jerman dan klub-klub Bundesliga dengan mudah. Ngepo tentang apapun juga gampang banget di Twitter, apapun bisa dikepoin. Begitupun dengan interaksi: di Twitter, interaksi nggak terbatas, bisa dengan siapa saja, mulai dari teman sesama fans Jerman sampe pemain timnas Jermannya sendiri, Seringkali pula gue nyinyir tentang orang-orang yang seluruh isi tweetnya merupakan momen dia di Path yang disinkronisasikan ke Twitter. But...seriously guys, menurut gue ANEH kalau orang-orang menganggap Path sebagai sosmed dengan spesialisasi pamer, karena aktivitas pamer itu terletak di mental masing-masing pengguna sosmednya. Kalau memang dia punya mental hobi pamer, semua sosmed yang dia miliki bisa jadi ajang pamer, bukan Path doang. Dan untuk masalah Path dianggap eksklusif karena cuma bisa dinikmati sama pengguna smartphone, gue rasa itu perkara waktu. Instagram juga sampai sekarang masih "eksklusif", tapi sekarang perlahan-lahan banyak tuh web yang bisa dipake buat mengakses Instagram lewat browser, misalnya Statigram (sekarang Iconosquare). Meskipun kayaknya belom bisa buat unggah fotonya ya.... CMIIW. (Anyway, tambahan nih, kayaknya orang-orang yang pro paham deh cara mengoperasikan aplikasi-aplikasi smartphone di browser.) See? It's just the matter of time.

Jadi....ya gitu. Gue rasa stereotype tentang Path sebagai ajang pamer mesti dipikir-pikir lagi, deh. :)))

Sunday, August 31, 2014

let me google this: "mau magang di mana yaaa"~~~

Ciao!

Rasanya udah ratusan kali gue berjanji bakalan rajin-rajin mampir ke blog ini, mengisinya dengan hal-hal berguna. Tapi ratusan kali pula gue melanggar janji gue itu. Ratusan kali juga gue beralasan "God I have no time to do such thing!" sementara tetap saja ratusan twit nggak jelas selalu membanjiri timeline gue tiap hari. Iya, gue segabut itu.

Gue udah semester tujuh nih. Setua ini masih aja makan gaji buta. Pengangguran. I'm those kind of Pasivis-kelas-berat! (Pasivis: the opposite term for the very active college students called 'aktivis' hahaha!) Dari jaman semester satu rasa-rasanya jarang banget gue nggak gabut. Eits, bukan berarti tugas kuliah gue menye-menye--sekali kedip beres. Kalau udah dikejar deadline hidup gue nggak kalah miserable kok sama anak-anak fakultas 'ono' dan 'anu'. Yaa maksud gue, selepas menyelesaikan kewajiban nugas, kerjaan gue cuma tidur-makan-ngobrol ama Bebear-nongkrong depan laptop; browsing nggak guna atau nonton film. Sepasif itu hidup gue sebagai seorang mahasiswa, sebagai pemuda, yang seharusnya punya kekuatan untuk mengubah negeri. Apalah.

*What the hell am I doing here*

Kewajiban gue di semester tujuh ini, di penghujung bulan Agustus yang belum menunjukkan tanda-tanda akan mengurangi suhu panas dan keringnya ini, adalah mencari tempat job training. (Atau PKL, internship, KP, magang... apapun istilah yang kau gunakan, Nak.) Sebenarnya, kewajiban ini telah terikat di punggung gue sejak semester enam. Banyak teman-teman sepermainan gue yang udah mengambil 2 sks job training, beberapa di antaranya sudah terlepas dari ikatan ini, alias udah kelar jobtrenya. Sedangkan gue? Gue baru sempat (baca: baru kepepet) memikirkan hal ini sekarang. Jadi...ayolah, let's be serious about this now.

My real problem is:
1. I haven't decided my job interest. Jenis pekerjaan macam apa yang bikin gue betah, sehingga ngga gue anggap sebagai beban nantinya. Prinsip gue adalah: kerjakan apa yang kamu cintai di atas cintai apa yang kamu kerjakan. Selain itu, prinsip gue juga menemukan tempat magang yang membawa gue menuju karir yang sesuai selepas lulus nanti.
2. I am definitely an unskilled person. Untuk ukuran bidang kuliah yang gue geluti, gue ngga punya kemampuan yang menunjang! Man! Gue bisa jadi apaan sih?? Pengalaman organisasi sepanjang kuliah gue aja minim! Who want to accept my application, anyway?
3. For an unskilled person, I am too fastidious. Banyak maunye, ngga mau magang di A soalnya blabla tapi ngga mau di B juga karena bzzbzzbzz. Padahal belum tentu A dan B mau nerima gue juga. *sigh*

Untuk poin terakhir sih rasanya.......let the power of kepepet do its magic.

Saking pusingnya gue mau jobtre di mana, gue sampe berulangkali googling "magang di mana yaaaaa"~~~

Oke, itu kewajiban semester tujuh yang pertama. Kewajiban kedua adalah mulai memikirkan topik skripsi.

Nah, kalau buat skripsi, gue terhitung tepat waktu kok sampai detik ini, mengingat di tempat gue menuntut gelar sarjana kebanyakan mahasiswa ngambil skripsi baru di semester 8, setelah menyelesaikan seluruh mata kuliah konsentrasi. Di tambah lagi, konsentrasi di jurusan gue lumayan dewa, sampai semester 7 masih menyisakan 'hutang' 6 sks. Maka, mustahil bisa mengeksekusi skripsi sebelum semester 8. Tapi setidaknya, di semester 7 ini gue udah harus memulai, supaya di penghujung semester 8 gue udah bisa LULUUUUUS.

Untuk kewajiban yang ini, masalahnya cuma satu:
Gimana ceritanya bisa mikirin topik skripsi kalau belum dapet tempat jobtre #lah. Selama masih ada yang ganjel di hati gue, gue nggak bisa ngerjain hal yang lain duluan. Menyelesaikannya bersamaan juga bukan ide bagus. Bukan buat gue.

Hahahahahahahaha! Tetep aja kembali ke masalah "magang di mana yaaaaa"~~~ *gugling lagi*

Pesan gue buat mahasiswa baru: kalo organisasi di kampus lo nggak sesuai dengan prinsip dan idealisme lo, carilah kegiatan lain yang membuat diri lo lebih ber-skill. Cari tambahan les atau ikut workshop apa gitu, biar ada yang bisa lo jual di CV lo. Jangan jadi pasivis. Pasivis di kampus sih boleh-boleh aja, tapi jangan jadi pasivis dalam hidup.

Sekian dan terima pinangan abang.

Tuesday, April 1, 2014

Bangun lebih pagi atau tidur lebih larut?

Terinspirasi dari sebuah twit yang kubaca di linimasa kemarin malam, yang isinya kurang lebih bahwa orang yang mem-publish twit tersebut lebih memilih untuk bangun subuh daripada begadang sampe tengah malem, terutama menyangkut tugas. Kalau pertanyaan ini ditujukan ke aku, aku bakalan jauh..jauh..jauh memilih untuk begadang sampe pagi! daripada tidur dulu malemnya baru kemudian bangun pagi untuk mengerjakan tugas atau sekadar belajar untuk UTS.

Bangun pagi bukan kegiatan favoritku. Aku benci melanggar jam biologisku unuk bangun. Masalahnya sesungguhnya bukan sekadar benci tapi tidak mampu! aku tidak punya daya untuk melanggar dentang jam tersebut. Jam biologis ini selalu berdentang pada pukul 8 pagi, dan sialnya aku selalu masuk kelas--sejak SD hingga sekarang!-- sebelum pukul 8. Alhasil, jam biologis itu harus setengah mati kulanggar demi daftar kehadiran yang tidak ternoda. Walaupun seringkali tetap usahaku untuk membuka mata tidak membuahkan hasil.

Mama selalu bilang ini semua karena kebiasaanku tidur larut malam. Sialnya, tidak peduli jam berapapun aku terlelap, aku selalu bangun pukul 8 pagi....... Pernah beberapa seringkali aku tidur selepas solat Isya dengan harapan keesokan paginya aku mampu bangun solat Subuh sebelum matahari terbit. Ternyata? tidak ada pengaruhnya. Aku bangun pukul 8 pagi. itupun cuma sanggup bangun demi mematikan alarm.... Mengesalkan.

Lain halnya dengan malam hari. Semengantuk apapun aku pada saat itu, selama aku memaksa diriku untuk tetap terjaga hingga segala urusanku hari itu selesai, maka aku akan terjaga. Bukan, aku bukan orang yang mengalami gangguan tidur. Aku tidak insomnia, aku tidak berbicara atau berjalan dalam tidur. Aku adalah penderita gangguan bangun!

Lalu apa yang salah? Apa yang salah dengan orang yang pikirannya aktif di malam hari dan baru dapat berhenti terjaga pada pagi hari? Banyak sumber mengatakan bahwa kebiasaan seperti ini tidak sehat, tapi bukankah para ahli justru berkarya di waktu-waktu yang tidak normal bagi ukuran jam biologis manusia? Bukankah memang telah dibuktikan bahwa otak manusia lebih kreatif pada jam-jam di mana mereka biasanya sedang terlelap--dini hari?

Tidak, aku tidak merasa lebih kreatif atau lebih cerdas pada dini hari. Tetapi memang kurasa pikiran ini lebih segar jika dipaksa bekerja pada jam-jam ketika semua orang terbuai dalam mimpi mereka masing-masing. Sebaliknya, sesegar apapun fisikku pada pagi dan siang hari, pikiranku selalu terasa buram. Maybe that's why I used to be the confused one in the school.

So, don't force someone to be an early-bird if she's a night-owl! :)

Monday, March 3, 2014

Buku dan (Galaunya) Remaja Indonesia

Inspiration to write a new blog post comes from anywhere. I'm quite sure about it.

Termasuk dari Twitter.

Baru saja, ketika sedang asyik scrolling timeline, aku menemukan suatu hal yang 'menarik' di daftar worldwide's trending topic, yaitu sebuah kalimat "suka ke toko buku". Memang bukan hal yang luar biasa sih, melihat prestasi negeri ini di situs jejaring sosial. Prestasi nyampah maksudnya.. Secara naluriah (cielah), langsung saja kuklik tautan yang tertera. Benar saja, ternyata pada saat itu ada banyak tweeps Indonesia yang baru memposting twit seperti itu: meretweet pertanyaan dari sebuah akun tanya-jawab yang nggak jelas dan nggak guna tapi followersnya ratusan ribu tentang apakah para followers yang kebanyakan remaja menyukai pergi ke toko buku atau tidak.

Penasaran apa sebagian besar jawabannya?



Nggak, nggak akan gue sensor nama-nama akunnya. :)))

Lihat jawaban "nggak. bikin pusing." atau "engga, so rajin amat gue baca2 buku wkwk"? Ada apa dengan pertokobukuan di Indonesia ya? Apa memang sebegitu menyeramkannya? Atau lebih parah lagi, ada apa dengan citra pembaca buku di mata anak-anak Indonesia sekarang? Apakah membaca buku terdengar sebagai sebuah hobi yang serius dan tidak menyenangkan?

Bukan, postingan blog kali ini bukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Aku cuma ingin menyuarakan pertanyaanku. Ada apa sih dengan hobi membaca? Aku suka baca, yaa bukan baca buku-buku yang berat sih, palingan novel dari berbagai genre. Tapi tetap saja, kenapa orang-orang menganggap kalau buku-buku yang aku baca selalu serius? Bahkan novel anak-anak seperti yang ditulis oleh Rick Riordan saja membuat teman-temanku geleng-geleng kepala kala melihatku membawa buku itu ke kampus dan membacanya di waktu luang.

Bahkan sekadar untuk novel-novel ringan doang, tetep bikin toko buku jadi tempat yang bikin pusing, ya? Itu penilaian untuk toko buku sekelas G*amedia atau G*nung Ag*ng loh. Gimana penilaian tentang perpustakaan sekolah atau kampus? Boro-boro dikunjungi, tau lokasinya di mana aja palingan kagak.

Maaf nyinyir. Tapi yaaaa mau jadi apa negara loooo kalo adek-adek kelas lo yang masih pada duduk di bangku sekolah lebih sering menghabiskan waktunya di depan layar smartphone untuk ngegalauin pacarnya masing-masing daripada baca buku --BAHKAN HANYA SEKADAR NOVEL FIKSI!!!--? Ah sudahlah.

Beruntunglah aku dan segelintir anak-anak lain yang telah dikenalkan pada buku serta toko buku dan perpustakaan sejak zaman prasekolah.

Peace, anyway..
And don't forget, bookworm is a new definition of sexy :))

Wednesday, February 19, 2014

Completely an A+


These don't belong to me and i don't know where i got this. For anyone else who own these comics, please kindly inform me if you don't want me to post them on my blog ;)

Kartun golongan darah ini udah engga baru lagi sebenarnya. Udah dari dulu nyebar di internet. Memang, peneliti-peneliti Jepang ama Korea katanya berasumsi kalo goldar itu berkaitan erat dengan karakter manusia. Golongan darah A itu KATANYA teratur, sopan, bertanggungjawab. Karakter golongan darah B konon cuek, engga terikat sama apapun, berani jadi diri sendiri. Karakter O itu optimis, easy-going, pokoknya tipe-tipe yang ga bisa diem. Sedangkan AB cenderung misterius dan logis. Katanya loh yaaa~ Kalau penasaran selengkapnya, dan ga ada kerjaan, googling aja "karakteristik berdasarkan golongan darah" atau sebagainya. Pasti bakal nemu banyak komik-komik lucu golongan darah macem gambar di atas :)))
Well, me, myself, is an A+. Seperti kebanyakan orang Asia (dan gue juga ngga ngerti kenapa orang Asia dan yang lainnya bisa beda), yep, Rhesus gue +. Golongan darah gue A. Gue selalu dengan pedenya berkata kalo gue itu selalu (memiliki grade) A+.

That's why, motto hidup gue my blood type will determine my grades :P

Berdasarkan analisis-analisis yang banyak tersebar di dunia maya nih, golongan darah itu terkenal "responsible, well-organized, serious, nervous, perfectionist, and also pessimist". And somehow, i completely agree about this. Gue merasa karakter-karakter itu emang sangat gue.

1. Gue merasa punya banyaaaaak banget aturan hidup. Untuk melakukan pekerjaan A, biasanya seminggu sebelumnya gue udah mempersiapkan aturan ini, itu, anu; juga strategi a,b,c,d,e,f,g,h....dst. Dan untuk masing-masing strategi ada beberapa tahapan yang harus dilakukan mulai dari 1,2,3,4,5,6........sampe mampus. Gue harus melaksanakan strategi itu melalui tahapan yang runut, kalo engga, dijamin engga bakal kelar tu kerjaan. That's why, gue benci banget kerjaan mendadak, karena mengacaukan segala strategi yang udah gue buat dari jauh-jauh hari. Lepas dari fakta betapa procrastinatornya gue, gue udah punya perhitungan sendiri: gue boleh buang-buang waktu gue maksimal berapa hari biar kerjaan gue kelar tepat waktu.  Oh, the other A, do you feel like me too?

2. Uh, banyak yang ngeluh kalo gue orangnya engga peka. Engga sensitif. Engga ngerti perasaan mereka. Tapi buat mereka yang emang udah lama kenal gue dan udah pernah gue tunjukin seberapa besarnya kepedulian gue sama mereka, you have to be grateful, karena bakal keliatan kalo GUE CARE SAMA LO JAUH LEBIH DARI LO CARE SAMA DIRI LO SENDIRI, ATAU GUE CARE SAMA DIRI GUE SENDIRI #capslockjebol #enggacurhatkok. :3 Seorang A itu kelewat overthinking. Sekali gue udah pernah bawa lo di dalam pikiran gue, masalah hidup lo yang paling sepele pun bisa kebawa-bawa dalam tidur gue dan ga kaget kalo gue terbangun di pagi harinya dengan segudang rencana untuk menyelesaikan masalah lo itu. I'm a super caring person, actually. If you don't think that way, you just never know me closer, not yet. And yes, i'm an over-thinker. You think i never mind about a thing, the truth is i never let you realize that i think so much about it.

3. Gambar ini kayaknya menjawab pertanyaan kenapa gue awkward banget sama lingkungan baru.
Mungkin biasa buat semua orang buat merasa awkward dengan temen baru, sekolah baru, kampus baru, etc... Tapi seorang A (dalam hal ini GUE) bisa butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa menunjukkan karakter gue sesungguhnya di hadapan lingkungan baru. Semakin lingkungan memaksa gue untuk beradaptasi, semakin sulit gue merasa nyaman dengan lingkungan itu. Hell yeah, complicated A.

Di kampus gue belajar tentang Teori Pengurangan Ketidakpastian. Apapun asumsi teori itu, gue butuh waktu yang cenderung jauh lebih lama dibandingkan orang lain untuk mengurangi ketidakpastian gue akan sesuatu hal baru. Jadi, jangan menilai gue sombong atau pendiem atau bahkan ALIM kalo lo baru kenal gue sebulan :)

Anak A, ada yang sama kayak gini?

4. Kebanyakan pertimbangan. Makanya kerjanya lambat. Kalo ngerjain tugas, biasanya gue udah memulai dari seminggu sebelum deadline, tapi ujung-ujungnya kelar barengan sama yang ngerjain semalam sebelum deadline: gara-gara kebanyakan mikir!....dan perfectionist.

5. "They get easily hurt inside, compared to the other blood type". Gue ngga pernah ngerasain bergolongan darah B, AB, atau O. Tapi A emang sebisa mungkin emotionless. Emosi yang ditunjukkan seringkali beda sama yang ada di dalam hati. Bisa aja gue ngamuk-ngamuk, tapi sebenernya gue engga marah. Gue cuma kelewat sedih sampe gue ngga bisa nangis, atau apalah. Pokoknya......sulit.

6. Tipe A itu individualis. Bukan berarti mereka ngga bisa kerja dalam tim, tapi mereka akan jauh lebih puas untuk bekerja sendirian, dan hasil maksimal juga akan didapatkan oleh tipe A bukan dalam tim. Kerja dalam tim bagus, netral, bertanggungjawab, tapi......kerja sendirian dan ngga bergantung pada orang lain selalu jadi pilihan yang lebih baik buat A. Agreed? ;)

7. Ah ini.... Masa sih? Kadang-kadang emang, tapi......



*****

Baca ini juga:

Type AType As may seem calm on the outside, but inside, you’re filled with anxiety and worry. You’re perfectionists and often shy and sensitive. Usually introverted, you’re stable and thoughtful. You make good listeners and are sensitive to color and your surroundings. You like to be fashionable and are up on the latest trends, but never flashy or gaudy. You like romantic settings and often shun reality for fantasy worlds. A is most compatible with A and AB in the love department. Common career choices: accountant, librarian, economist, writer, computer programmer, and gossip columnist. 
sumber: http://www.divinecaroline.com/self/horoscopes/can-blood-type-determine-your-personality

(Ugh, like to be fashionable srsly?)

Type A• Presence of mind, serious, patient, calm & cool;• Coherent character, can be relied on & trusted, but stubborn;• Plan everything out beforehand, and carry out tasks with seriousness and consistency; • Try to be fair and find the ideal outcome to any situation;• Tend to keep themselves separate from others, especially those who don't share their opinions;• Tend to try and keep their emotions and thoughts hidden from others, and share them only when comfortable.
sumber: http://whatsmybloodtype.org/character.html

Baca karakter-karakter di web barusan bikin gue merasa agak anomali B; soalnya ada bagian "tend to be loner" nya.

Your personality blood type is A
You’re a hardworking perfectionist who likes to plan ahead, foresee any possible problems, and spot details other people may not notice. Your driven nature and somewhat hyperactive work ethic have earned the respect of your bosses and colleagues, and it doesn’t come as a surprise that you’re given key responsibilities at work. However, you do tend to overanalyze things sometimes, so try to see things as what they really are instead of the thousand other possibilities you're able to come up with.
While you can be something of a workaholic, you’re not one to easily blow your top over stress. Your friends describe you as patient, especially when dealing with people. Since you are a homebody, an ideal weekend for you would be lounging on the couch with no particular plans for the day.
sumber: http://www.femalenetwork.com/health-wellness/whats-your-blood-type-personality (setelah ikutan kuisnya)

TYPE A is the good student. They try not to upset order; they dislike disruption and confrontation, and as a result try to stick to rules as much as possible and do things perfectly. They are reliable and have great tolerance and endurance. With a tendency to overanalyze, they are worrywarts and fret about things that might go wrong if things aren’t done properly. Because they don’t want to upset anyone, they take many people’s opinions into consideration so they are mostly regarded as the most kind and nice. However, this trait means they wind up being quite slow at making decisions. When coming upon an unknown bridge, they would take time to make sure anything and everything is 100% safe before crossing. Although usually introverts, there is the occasional extrovert with great leadership qualities who has managed to externalize the “serve others” attitude. Paying much attention to other peoples’ emotions means they are quite acute to their own feelings, which get easily hurt. Despite being very understanding, when greatly hurt they don’t forgive nor do they forget.
sumber: http://blog.korea.net/?p=5911

Kecuali kalimat terakhir, gue pribadi biasanya bukan memaafkan tapi melupakan........ Emang pikun sih :P

Jadi, benarkah?

blog.korea.net


Thursday, December 5, 2013

Weird me isn't that weird!

Rasanya udah ga aneh kalo orang-orang berpikiran selera musik gue aneh. Tapi siriusly, i have no idea tentang lagu-lagu yang populer saat ini, baik lagu-lagu dari dalam atau luar negeri. I like Coldplay, i like The Script, itu doang. Yang lain? Engga tau. Bahkan gue BARU dua hari yang lalu dengerin lagu "fenomenal"nya Miley Cyrus yang Wreckin Ball itu. Bah.

Dan tentunya, i have no idea why people love it.

Begitu juga dengan lagu-lagu lokal. Kalo bukan karena temen-temen gue yang suka dengerin lagu-lagu Indonesia terkini dari gadget mereka, serta dengerin soundtrack-soundtrack sinetron terbaru, gue rasa gue ngga akan pernah tau.

Judge me, people. Judge me.

Terus lagu macem apa yang gue dengerin? -.-
The more jadul ones, like these...





Jadul? Legendary maksud lo? :3

Trus yang underrated macem ini...

atau ini...


Aww my Gaaawwwd, those are the best~

Lainnya? Oke, gue beberapa tahun terakhir ini suka banget ngobrak-ngabrik YouTube demi nyari lagu berbahasa asing (bukan English). Dan percayalah, banyak banget lagu Prancis, Italia, daaaaan lain-lain yang luar biasa keren :')


That's Zero Assoluto. They have bunch of songs you should listen to. Try, search the others on YouTube. Grazie, mas Gama Harjono, he introduced me to them through his lovely book "Lupakan Palermo" :)))

Berikutnya....


Christophe Mae - Tombe sous le charme. Aaaaaaahhhh, wanna dance with him~~ X)

Masih banyak lagi.. Silakan YouTube-ing sendiri XD
Percayalah, aku tidak aneh :}
Dan kalau definisi aneh adalah yang seperti ini, aku bahagia jadi aneh ;)

Tuesday, December 3, 2013

Adieu, Winamp~

Katanya, Winamp usianya tak lagi panjang. Sedih rasanya, mengingat sampe sekarang pun gue kalo dengerin lagu di laptop ya pake ini :P Dan karena usianya yang ngga panjang lagi, gue --dengan iseng-- ngedonlotin skin winamp, sebelum hal tersebut mustahil dilakukan. :') Dari jaman masih pake PC yang gede, udah punya niatan buat liat-liat skin winamp, tapi baru kesampean sekarang :') Setidaknya, nanti kalo music player ini udah jadi sejarah, gue bisa cerita "iya, gue dulu sampe donlot skin-nya sebagai ucapan good bye and thank you"

HAHAHA APAAN SIH YU -___-

Skin Winamp yang baru didonlot. Hehe, snipping-an-nya mamerin Twitter gue dikit gapapa lah ya :P
Oiya, anyway, lagu-lagu yang lagi gue puter pada saat nyenipping si winamp ini --dan pada saat gue nulis postingan ngga penting ini-- sangat gue rekomendasikan bagi para penjelajah blog gue (kalo ada) yang ngga suka atau bosen sama lagu-lagu mainstream jaman sekarang. Hehe. Beberapa lagu terbaru sih, tapi engga mainstream-mainstream amat :3 Dan yang terpenting: you can categorize them as slow songs. HAHAHA. My favorite.

Friday, September 20, 2013

Bebear Jomblo



My little Bebear was trying to say, "aku kangen kamu, Berni..... Bawa aku jalan-jalan ke Munchen :'("
She's just as jomblo as moi ((((((:

Tuesday, February 21, 2012

The "DAFUQ!! HOW CAN YOU READ MY MIND" lyrics

"And i'd give up forever to touch you.." --Iris (Ronan Keating)

"...How i tried to get you off my mind, but you return all the time.
I believed i could just let you go, like the fool i am.." --Ghost of you (MLTR)

"...I can't let go, you're the part of me, don't you know?" --I can't let go (Air Supply)

"Fly me up to where you are beyond the distant star, i wish upon tonight to see you smile" --To where you are (Josh Groban)

"When you're dreaming with a broken heart, and waking up is the hardest part.." --Dreaming with a broken heart (John Mayer)

"...I've tried to run from your side, but each place i hide it only reminds me of you..." --Only reminds me of you (St. Paul)

"...And now that you're gone, i can't cry hard enough.
Now i can't cry hard enough, for you to hear me now..." --Can't cry hard i enough (William Brothers)

Tuesday, November 29, 2011

When the word 'kangen' suddenly has a close relationship with 'galau'

Menurut KBBI online, galau artinya pikiran kacau tidak karuan.
Sedangkan kangen artinya rindu; ingin sekali bertemu.
Lalu kenapa setiap kita mengucapkan kata kangen lebih dari sekali, orang-orang akan mempersepsikan bahwa kita sedang galau?
Apakah setiap orang yang pikirannya sedang kacau tandanya ia sedang ingin bertemu seseorang?
Apakah kerinduan seorang mempengaruhi kekacauan pikirannya?
This is weird.
Pertanyaan retoris ironi pertama mungkin terdengar 'eh? ga gitu juga'.
Tapi yang kedua mungkin ada benarnya.
Kalo ga benar ga mungkin lahir post ini

pic from tumblr, not mine


Tidak

Aku berlari melerai angin terus dan terus tiada henti. Napasku yang mulai tersengal-sengal tak dapat membuat otak dan hatiku  --yang sebenarnya jarang bekerja sama-- luluh dan sepakat untuk mengakhiri segala penderitaan yang dirasakan oleh kedua kakiku. Tidak. Mereka tidak kuizinkan berhenti. Tidak sampai Tuhan mengambil nyawaku. Mungkin aku akan mati saat ini, saat di mana jantungku menyerahdan enggan memompa darah ke sekujur tubuhku lagi. Tapi mungkin juga tidak karena Tuhan masih merasa bahwa aku belum berlari. Bahkan mungkin di mataNya, belum se-senti pun aku bergerak.

Satu hal yang bukan merupakan kemungkinan: aku tak akan berhenti. Atau setidaknya belum berhenti.

Aku tak akan berhenti saat ini.

Biarkan saja sepasukan debu menyerangku, hingga menimbulkan rasa perih pada kedua bola mataku. Aku tak mau peduli. Biarpun aku buta, aku takkan hilang arah. Naluri navigator ulung yang kuwarisi dari nenek moyangku --konon mereka para penguasa seribu lautan yang handal-- menjadikan penghasut-penghasut itu tidak berkutik melawanku. Aku sudah katakan tadi, bukan? Aku tak akan berhenti.

Tidak, tidak saat ini.

Dan tidak ada yang mampu membuatku berhenti.

Kecuali sang penguasa sanubariku,
serta Tuhanku, dengan pekerjaNya yang siap sedia memutus hubungan ruh dan tubuhku kapanpun Ia mau.

Hingga saat itu tiba, aku tak akan berhenti.

Okt 31, 2011 - 12:52
JT.05.02.10

i'm still an old Ayu

They all keep asking me: "Ayuuu gimana disanaaa? Udah gaul beloooom?" or "Cie anak nangor, pasti tiap hari ngehedon mulu deh :P" or "Beda deh anak F***m, gue mau liat style kerudung lo sekarang. Atau jangan-jangan udah lepas? XD"
GUYS I'M STILL AN OLD AYU.
I HAVEN'T CHANGED.
AND NEVER FOREVER.
I swear for that.
-_-

Besides, tho i've been familiar with my new place, i still don't understand why people think i may change my behavior.
They never know me at all, eh?
Or they just make an irony at me, as they extremely recognize that i won't be able to adaptate with my new life.
They recognize that i've chosen a wrong path for my future.


(Please God, don't tell me that i've made one unforgivable decision :|)


One thing i can ensure you is:
I'll never change.

I'll be difficult to recover from this Xenophobia.

Monday, November 7, 2011

Hancur


Aku menatap kedua matanya lekat-lekat dengan tatapan penuh kebencian. Lalu kusapukan pandanganku ke seluruh tubuhnya, tangannya yang di gips seolah-olah sedang menantangku berduel sedangkan kaki palsunya turut serta menertawai wajahku yang seperti harimau mengaum. Jari-jemari tanganku terkepal begitu kuat, ingin sekali aku meninju wajahnya.

Kemudian ia bergerak tertatih-tatih ingin menjauh dariku. Mungkin ia sadar betapa besar kebencianku padanya. Ia mulai menampakkan wajah ketakutan, membuat tanganku semakin gatal ingin menampar pipinya. Ia menjauh, tak mungkin bagiku menyentuhnya lagi. Kugenggam batu sekepalan tangan, tekadku untuk melukainya semakin kuat. Emosiku sudah sampai keubun-ubun...

“PRAAAANG!”

Suara cermin pecah tiba-tiba. Batu telah kulemparkan. Wujudnya kini tak terlihat lagi. Ia telah hancur berkeping-keping. Dan seketika aku tersadar.

Aku membunuh bayanganku sendiri.