Showing posts with label neverending galauness. Show all posts
Showing posts with label neverending galauness. Show all posts

Tuesday, May 19, 2015

Aku Ingin Cepat Lulus, Tapi...

Sungguh, sudah sepantasnya diriku ini merasa was-was. Waktu bergulir begitu cepatnya, hingga dengan berat hati kusadari saat ini telah memasuki akhir bulan kelima di tahun 2015 --tahun di mana gelar S1 mestinya kudapatkan. Sudah pertengahan tahun. Dan aku belumlah membuat kemajuan yang berarti dalam mengerjakan tugas akhirku.

Sungguh, seharusnya aku mulai merasa cemas. Kawan-kawanku satu persatu mendaftar sidang akhir. Beberapa yang lainnya sudah terjun ke lapangan untuk merampungkan penelitian mereka. Tidak usah disinggung lagi bagaimana satu di antara kawan angkatanku yang bahkan sudah wisuda. Sedangkan diriku hingga detik ini bahkan belum pernah mendapatkan pencerahan dari dosen pembimbing. Salahkan Beliau yang begitu sibuk, begitu ujarku dalam hati. Namun, kurasakan bagian terdalam diriku berteriak lantang: "KAULAH YANG SELALU MENUNDA!" 

Sungguh, aku merasa buruk ketika menyadari bahwa diri ini tidak sama sekali termotivasi oleh bayangan senyum kedua orang tua kala mendapati putri bungsunya yang bandel menyelesaikan rangkaian pendidikan formalnya. Jarum jam yang tidak pernah berhenti berderap hanya kurasakan sebagai pemecah keheningan. Tidak berarti lebih.

Aku selalu berusaha melakukan apapun sebaik-baiknya, dalam kurun waktu yang sesuai dengan harapan. Tetapi entah apa yang salah dengan diriku belakangan ini.

Tidakkah kau ingin cepat mengenakan toga, menerima gelar sarjana, melepaskan diri dari beban hidup orang tua yang membiayai hidupmu selama 21 tahun ini, wahai aku?


Duh aku.....

Sungguh, aku ingin cepat lulus.

Tapi...

Aku takut.

Aku takut tidak lagi menjadi mahasiswa. Empat tahun aku menyandang status itu dan aku telah merasa nyaman di dalam lindungannya.

Mahasiswa yang baik adalah yang dapat berkontribusi bagi masyarakat. Begitu kata orang. Lalu aku? Tidak begitu.

Mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang kritis, inisiatif, dan proaktif. Itulah yang sering dikoar-koarkan. Lalu aku? Tidak begitu.

Masa-masa menjadi mahasiswa adalah masa-masa penuh idealisme khas pemuda. Idealisme? Punyakah aku?

Lalu, mengapa aku harus merasa nyaman berada di bawah lindungan status yang aku sendiri tidak pernah berlaku seolah-olah status tersebut dalam genggamanku selama empat tahun ini?

Aku takut tidak lagi menjadi mahasiswa.

Aku takut pada kehidupan setelah kelulusan.

Selama ini aku berlindung di dalam benteng imajinasi yang melindungiku dari kerasnya dunia nyata.

Aku ingin selamanya menjadi mahasiswa. Status itu adalah benteng imajinasi yang selalu melindungiku dari kerasnya dunia nyata.

Menghabiskan 8 jam dalam sehari, 5 hari dalam seminggu di balik meja kerja, di bawah kungkungan sebuah institusi yang seketika merenggut kebebasanku bukanlah hal yang kuharapkan terjadi dalam dunia imajinasiku. Aku belum sempat melakukan ini, belum merasakan menjadi itu. Banyak hal yang belum tuntas kulakukan. Aku ingin memperpanjang masa-masaku menjadi mahasiswa. Kurasa itulah jawaban bagi ketiadaan emosi yang kurasakan mengingat lambatnya pergerakanku dalam menyelesaikan tugas akhir.

Bagiku, tugas akhir bagi peneliti pemula sepertiku sebenarnya bukanlah hal yang sulit. Seharusnya dapat dilakukan dengan cepat. Tetapi rasanya sel-sel dalam tubuhku menolak melakukannya dengan mulus. Karena ia takut lulus.

Ya, kini aku paham kala mereka berujar "mumpung masih mahasiswa".

Aku takut lulus, oh Tuhan...

Sunday, August 31, 2014

let me google this: "mau magang di mana yaaa"~~~

Ciao!

Rasanya udah ratusan kali gue berjanji bakalan rajin-rajin mampir ke blog ini, mengisinya dengan hal-hal berguna. Tapi ratusan kali pula gue melanggar janji gue itu. Ratusan kali juga gue beralasan "God I have no time to do such thing!" sementara tetap saja ratusan twit nggak jelas selalu membanjiri timeline gue tiap hari. Iya, gue segabut itu.

Gue udah semester tujuh nih. Setua ini masih aja makan gaji buta. Pengangguran. I'm those kind of Pasivis-kelas-berat! (Pasivis: the opposite term for the very active college students called 'aktivis' hahaha!) Dari jaman semester satu rasa-rasanya jarang banget gue nggak gabut. Eits, bukan berarti tugas kuliah gue menye-menye--sekali kedip beres. Kalau udah dikejar deadline hidup gue nggak kalah miserable kok sama anak-anak fakultas 'ono' dan 'anu'. Yaa maksud gue, selepas menyelesaikan kewajiban nugas, kerjaan gue cuma tidur-makan-ngobrol ama Bebear-nongkrong depan laptop; browsing nggak guna atau nonton film. Sepasif itu hidup gue sebagai seorang mahasiswa, sebagai pemuda, yang seharusnya punya kekuatan untuk mengubah negeri. Apalah.

*What the hell am I doing here*

Kewajiban gue di semester tujuh ini, di penghujung bulan Agustus yang belum menunjukkan tanda-tanda akan mengurangi suhu panas dan keringnya ini, adalah mencari tempat job training. (Atau PKL, internship, KP, magang... apapun istilah yang kau gunakan, Nak.) Sebenarnya, kewajiban ini telah terikat di punggung gue sejak semester enam. Banyak teman-teman sepermainan gue yang udah mengambil 2 sks job training, beberapa di antaranya sudah terlepas dari ikatan ini, alias udah kelar jobtrenya. Sedangkan gue? Gue baru sempat (baca: baru kepepet) memikirkan hal ini sekarang. Jadi...ayolah, let's be serious about this now.

My real problem is:
1. I haven't decided my job interest. Jenis pekerjaan macam apa yang bikin gue betah, sehingga ngga gue anggap sebagai beban nantinya. Prinsip gue adalah: kerjakan apa yang kamu cintai di atas cintai apa yang kamu kerjakan. Selain itu, prinsip gue juga menemukan tempat magang yang membawa gue menuju karir yang sesuai selepas lulus nanti.
2. I am definitely an unskilled person. Untuk ukuran bidang kuliah yang gue geluti, gue ngga punya kemampuan yang menunjang! Man! Gue bisa jadi apaan sih?? Pengalaman organisasi sepanjang kuliah gue aja minim! Who want to accept my application, anyway?
3. For an unskilled person, I am too fastidious. Banyak maunye, ngga mau magang di A soalnya blabla tapi ngga mau di B juga karena bzzbzzbzz. Padahal belum tentu A dan B mau nerima gue juga. *sigh*

Untuk poin terakhir sih rasanya.......let the power of kepepet do its magic.

Saking pusingnya gue mau jobtre di mana, gue sampe berulangkali googling "magang di mana yaaaaa"~~~

Oke, itu kewajiban semester tujuh yang pertama. Kewajiban kedua adalah mulai memikirkan topik skripsi.

Nah, kalau buat skripsi, gue terhitung tepat waktu kok sampai detik ini, mengingat di tempat gue menuntut gelar sarjana kebanyakan mahasiswa ngambil skripsi baru di semester 8, setelah menyelesaikan seluruh mata kuliah konsentrasi. Di tambah lagi, konsentrasi di jurusan gue lumayan dewa, sampai semester 7 masih menyisakan 'hutang' 6 sks. Maka, mustahil bisa mengeksekusi skripsi sebelum semester 8. Tapi setidaknya, di semester 7 ini gue udah harus memulai, supaya di penghujung semester 8 gue udah bisa LULUUUUUS.

Untuk kewajiban yang ini, masalahnya cuma satu:
Gimana ceritanya bisa mikirin topik skripsi kalau belum dapet tempat jobtre #lah. Selama masih ada yang ganjel di hati gue, gue nggak bisa ngerjain hal yang lain duluan. Menyelesaikannya bersamaan juga bukan ide bagus. Bukan buat gue.

Hahahahahahahaha! Tetep aja kembali ke masalah "magang di mana yaaaaa"~~~ *gugling lagi*

Pesan gue buat mahasiswa baru: kalo organisasi di kampus lo nggak sesuai dengan prinsip dan idealisme lo, carilah kegiatan lain yang membuat diri lo lebih ber-skill. Cari tambahan les atau ikut workshop apa gitu, biar ada yang bisa lo jual di CV lo. Jangan jadi pasivis. Pasivis di kampus sih boleh-boleh aja, tapi jangan jadi pasivis dalam hidup.

Sekian dan terima pinangan abang.

Wednesday, February 12, 2014

A little note for you

"There's nothing wrong about being lost in your own imaginary world. The problem is when you can't find the right path back to the reality, and no one ever care enough to tell you how." Sorry for being a passive friend. I do care about you, I just have no idea how to express it. It's so difficult to be back to the old me.

Friday, September 20, 2013

Bebear Jomblo



My little Bebear was trying to say, "aku kangen kamu, Berni..... Bawa aku jalan-jalan ke Munchen :'("
She's just as jomblo as moi ((((((:

Kamuflase

Entah mengapa, segalanya menjadi sesulit ini.
Tak pernah kubayangkan bahwa suatu hari nanti aku akan menjadi seseorang yang sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Sulit untuk bergaul, cenderung menjaga jarak dengan orang lain, meminimalisasi interaksi dengan teman-teman di sekitar.......

Faktanya, itulah aku saat ini.

Seringkali aku berpikir, apa memang aku berubah. Apa memang ini semua semata-mata karena aku sudah mampu mengubah kepribadianku yang "henye-menye" di hadapan banyak orang. Kalau memang seperti itu, kenapa aku masih begitu menyebalkan di dunia maya? Kenapa twit-twitku masih sangat "henye-menye?"
Ketakutan mulai menguasai hatiku.
Apa aku telah menjadi seorang pecandu internet yang kehilangan kemampuan berkomunikasi tatap muka???

Kemudian aku sadar, mungkin aku tak pernah berubah. Aku tetap menyebalkan (sekaligus -akui sajalah-- sangat dirindukan) oleh banyak kawanku dari luar lingkungan pertemanan primerku saat ini. Ketika bersama mereka, aku tetaplah aku yang kukenal selama ini. Rusuh. Bawel. Aneh. Moody. Masa bodoh.
Mungkin aku tak pernah berubah.

Ketika sekali lagi aku masuk ke dalam lingkungan pertemanan baru, aku tetap dapat membuat diriku untuk merasa nyaman. Bahkan sangat cepat aku menjadi lekat dengan mereka, teman-teman baruku itu. Padahal kami hanya bertemu selama empat jam dalam satu minggu. Itu pun kami jarang full team.
Aku yakin, aku tak pernah berubah.

Aku menampilkan kepribadian yang berbeda HANYA di hadapan lingkungan pertemanan primerku sekarang: teman-teman kampusku. Aku seolah bersembunyi dari mereka. Aku tak mau terlibat percakapan terlalu banyak.
Aku bahkan tak peduli jika mereka menganggap eksistensiku atau tidak, sama seperti ketidakpedulianku pada sebagian besar dari mereka.
Akhirnya aku sadar, aku tak pernah berubah.

Layaknya cumi-cumi yang menyemprotkan tinta pada musuh-musuhnya, mungkin bersembunyi dan menjadi pasif merupakan bentuk pertahanan diriku atas segala "ancaman", yang dalam hal ini berupa ketidaknyamanan.

Dan jika aku berpikir bahwa aku tak mampu beradaptasi dengan lingkungan kampusku, mungkin itu karena aku beradaptasi dengan cara yang berbeda. Aku mencoba bertahan tanpa harus berbaur terlalu sering.
Mungkin suasana ini dapat membuatku dewasa dan independen: berhenti merasa tergantung pada lain.

Thursday, December 20, 2012

Ironically ironic

I once heard that when you fall in love with somebody, you're gonna try hard as you can to also fall in love with everything he/she loves. His/her families, favorite books, favorite movies, hobbies, etc. I think that's correct. Err.... i think i'm now trying to love what he loves...

(Who the hell is "him"?)

The most ironic thing is when i realize there's no one trying to love what i love. Haha.


Tuesday, February 21, 2012

The "DAFUQ!! HOW CAN YOU READ MY MIND" lyrics

"And i'd give up forever to touch you.." --Iris (Ronan Keating)

"...How i tried to get you off my mind, but you return all the time.
I believed i could just let you go, like the fool i am.." --Ghost of you (MLTR)

"...I can't let go, you're the part of me, don't you know?" --I can't let go (Air Supply)

"Fly me up to where you are beyond the distant star, i wish upon tonight to see you smile" --To where you are (Josh Groban)

"When you're dreaming with a broken heart, and waking up is the hardest part.." --Dreaming with a broken heart (John Mayer)

"...I've tried to run from your side, but each place i hide it only reminds me of you..." --Only reminds me of you (St. Paul)

"...And now that you're gone, i can't cry hard enough.
Now i can't cry hard enough, for you to hear me now..." --Can't cry hard i enough (William Brothers)