Showing posts with label college life. Show all posts
Showing posts with label college life. Show all posts

Thursday, September 3, 2015

Krismon Dalam Kacamata Beruang



Sebenarnya, pengetahuan gue soal permasalahan ekonomi nol besar banget. Iya, udah nol, besar, banget pula. Jadi gue nggak pernah minat ikut-ikutan komentar. Tapi meme ini bikin geli. Wkwkwk. Permainan bahasanya yang bikin gue geli, meskipun harusnya ejaan yang benar "mengkhawatirkan". Bisa aja ya orang dapet ide buat bikin meme-meme plesetan macem gini. Kreatip!

Balik lagi karena pengetahuan gue yang minim soal ekonomi, gue nggak paham kenapa rupiah sekarang terus melemah. Gue nggak paham kenapa melemahnya rupiah saat ini belum bikin orang-orang rusuh seperti tahun 1998. Yang gue paham, belakangan ini kondisi keuangan gue memang melesu. Bayangin aja, gue punya dua rekening di bank, yang satu buat gue bobol setiap hari, dan yang satu lagi buat gue nabung: rekening yang nggak pernah diganggu gugat isinya. Wkwk. Awalnya, di rekening tabungan ini, jumlah uang gue bisa mencapai 3x lipat jumlah uang di rekening satunya.

Mungkin rupiah memang sedang menguatirkan. Belakangan, jumlah uang di rekening tabungan gue bahkan lebih sedikit dari jumlah di rekening uang makan.........


Asli, hidup permahasiswaan-tingkat-akhir-yang-skripsinya-masih-juga-belum-kelar gue makin menguat-irkan.

Nggak cuma itu. Dulu, tiap dapet kiriman dari nyokap, uang segitu cukup buat hidup gue sebulan, bahkan cukup untuk kehidupan yang dilengkapi dengan acara jalan-jalannya dan tentunya bolak-balik belanja buku di Gramedia. Tak disangka, tak dinyana. Terakhir kali gue belanja buku adalah 3 bulan lalu. Iya. Mungkin inilah efek krisis ekonomi Indonesia bagi kantong gue. Harga novel terbitan lokal yang gue incar jadi di atas 70ribuan semua. Biasanya 200ribu bisa dapet 2 buku impor, sekarang bisa beli 1 aja udah alhamdulillah.

Alhasil, pinjam-meminjam buku belakangan ini jadi pilihan nomor satu gue. Slogan "selama bisa punya sendiri, kenapa harus pinjam?" yang bertahun-tahun lamanya gue junjung tinggi kini mengalami perubahan drastis: "selama bisa pinjem, ngapain beli?"

Mumpung tulisan ini memang ngalor ngidul, gue mau sekalian cerita 'musibah' mengalami gue kemarin. Masih berkaitan dengan minjem buku dan duit, kok.

Jadi gini. Gue adalah mahasiswa semester lewat dari batas akhir yang butuh buku untuk mengerjakan skripsi. Dasar mahasiswa Indonesia, gue pun cari pinjaman buku di perpustakaan universitas. Berhubung skripsi nggak kelar-kelar, buku-buku itu pun nggak gue kembalikan. Yah, lagian juga salah siapa bahwa letak perpustakaan universitas berjarak satu jam perjalanan naik travel seharga 40ribu pulang-pergi dari kampus gue? -_-

Akhirnya gue memutuskan bahwa sudah terlalu lama buku ini gue pinjam.
Akhirnya gue sadar bahwa menunggu gue sidang hanya akan membuat denda keterlambatan pengembalian buku semakin membengkak.
Kemarin, gue bela-belain khusus ke kota sebelah untuk mengembalikan buku tersebut.
Tahukah kamu, berapa denda yang harus saya bayarkan?

Seratus enam puluh ribu rupiah.
Seratus enam puluh ribu rupiah.
Seratus enam puluh ribu rupiah.
SERATUS ENAM PULUH RIBU RUPIAH ADALAH SEHARGA SATU BUAH NOVEL IMPOR IDAMAN SAYA

Baiklah, mungkin gue AKHIRNYA paham seperti apa rasanya ketika krisis melanda perekonomian kehidupan gue.

(P.S.: ini novel-novel inceran gue saat ini.....saat-saat kere ini)


Tuesday, May 19, 2015

Aku Ingin Cepat Lulus, Tapi...

Sungguh, sudah sepantasnya diriku ini merasa was-was. Waktu bergulir begitu cepatnya, hingga dengan berat hati kusadari saat ini telah memasuki akhir bulan kelima di tahun 2015 --tahun di mana gelar S1 mestinya kudapatkan. Sudah pertengahan tahun. Dan aku belumlah membuat kemajuan yang berarti dalam mengerjakan tugas akhirku.

Sungguh, seharusnya aku mulai merasa cemas. Kawan-kawanku satu persatu mendaftar sidang akhir. Beberapa yang lainnya sudah terjun ke lapangan untuk merampungkan penelitian mereka. Tidak usah disinggung lagi bagaimana satu di antara kawan angkatanku yang bahkan sudah wisuda. Sedangkan diriku hingga detik ini bahkan belum pernah mendapatkan pencerahan dari dosen pembimbing. Salahkan Beliau yang begitu sibuk, begitu ujarku dalam hati. Namun, kurasakan bagian terdalam diriku berteriak lantang: "KAULAH YANG SELALU MENUNDA!" 

Sungguh, aku merasa buruk ketika menyadari bahwa diri ini tidak sama sekali termotivasi oleh bayangan senyum kedua orang tua kala mendapati putri bungsunya yang bandel menyelesaikan rangkaian pendidikan formalnya. Jarum jam yang tidak pernah berhenti berderap hanya kurasakan sebagai pemecah keheningan. Tidak berarti lebih.

Aku selalu berusaha melakukan apapun sebaik-baiknya, dalam kurun waktu yang sesuai dengan harapan. Tetapi entah apa yang salah dengan diriku belakangan ini.

Tidakkah kau ingin cepat mengenakan toga, menerima gelar sarjana, melepaskan diri dari beban hidup orang tua yang membiayai hidupmu selama 21 tahun ini, wahai aku?


Duh aku.....

Sungguh, aku ingin cepat lulus.

Tapi...

Aku takut.

Aku takut tidak lagi menjadi mahasiswa. Empat tahun aku menyandang status itu dan aku telah merasa nyaman di dalam lindungannya.

Mahasiswa yang baik adalah yang dapat berkontribusi bagi masyarakat. Begitu kata orang. Lalu aku? Tidak begitu.

Mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang kritis, inisiatif, dan proaktif. Itulah yang sering dikoar-koarkan. Lalu aku? Tidak begitu.

Masa-masa menjadi mahasiswa adalah masa-masa penuh idealisme khas pemuda. Idealisme? Punyakah aku?

Lalu, mengapa aku harus merasa nyaman berada di bawah lindungan status yang aku sendiri tidak pernah berlaku seolah-olah status tersebut dalam genggamanku selama empat tahun ini?

Aku takut tidak lagi menjadi mahasiswa.

Aku takut pada kehidupan setelah kelulusan.

Selama ini aku berlindung di dalam benteng imajinasi yang melindungiku dari kerasnya dunia nyata.

Aku ingin selamanya menjadi mahasiswa. Status itu adalah benteng imajinasi yang selalu melindungiku dari kerasnya dunia nyata.

Menghabiskan 8 jam dalam sehari, 5 hari dalam seminggu di balik meja kerja, di bawah kungkungan sebuah institusi yang seketika merenggut kebebasanku bukanlah hal yang kuharapkan terjadi dalam dunia imajinasiku. Aku belum sempat melakukan ini, belum merasakan menjadi itu. Banyak hal yang belum tuntas kulakukan. Aku ingin memperpanjang masa-masaku menjadi mahasiswa. Kurasa itulah jawaban bagi ketiadaan emosi yang kurasakan mengingat lambatnya pergerakanku dalam menyelesaikan tugas akhir.

Bagiku, tugas akhir bagi peneliti pemula sepertiku sebenarnya bukanlah hal yang sulit. Seharusnya dapat dilakukan dengan cepat. Tetapi rasanya sel-sel dalam tubuhku menolak melakukannya dengan mulus. Karena ia takut lulus.

Ya, kini aku paham kala mereka berujar "mumpung masih mahasiswa".

Aku takut lulus, oh Tuhan...

Sunday, May 17, 2015

Car Free Night Asia Afrika: Another Reason to Hardly Move On From Bandung Memories!

Gegap gempita 60 tahun KAA di Kota Bandung mungkin mulai meredup. Kang Emil telah meminta warganya untuk 'move on' dari perhelatan akbar yang menyita perhatian seluruh warga Bandung selama nyaris sebulan tersebut. Sayangnya, sebagai salah satu warga Bandung coret yang ikut serta meramaikan event tersebut sebagai relawan, move on dari rangkaian acara KAA adalah kegiatan yang sulit bagi gue, sungguh. Kota Bandung yang bersolek sedemikian rupa dan tetap tampak cantik hingga sebulan setelah rangkaian acara, terasa bagaikan menghembuskan angin-angin nostalgia ke dalam jiwa gue~ Hasek.

Tiada dusta, aku susah move on dari Festival 1000 Angklung, acara-acara kebudayaan di mall-mall Kota Bandung, Asia-Africa Parade di jalan Asia-Afrika dan sekitarnya, hingga malam terakhir rangkaian acara di Car Free Night Dago..... Such a memorable experience!



Jadi satu di antara 20.000 (?) pemecah rekor bermain angklung


 Foto-foto di Asia Africa Parade

Ramainyaaaaa acara kebudayaan di CiWalk dan PVJ! 
And this, it was just your typical Car Free Day 'till Night
Umm.... Not that typical, I guess......
Semoga dosa-dosa gue diampuni karena baru mengunggah semua ini ke blog sekarang, ketika apa yang sebenarnya hendak gue ceritakan adalah acara malam mingguan gue di CFN Asia Afrika semalam :)))

Intinya adalah, gue gagal move on. Kebahagiaan sederhana untuk berada di tengah ribuan warga Bandung yang ingin bersenang-senang dalam rangka perayaan KAA tidak mampu gue hilangkan dari benak gue hingga hampir sebulan setelah rangkaian acara berakhir.

Gagal move on itu jugalah yang membuat gue tidak kuasa menahan diri ketika melihat tweet ini. 



HELL YEAH! Fasten your seat belt and let's go!

Bersama Irine, Ayu, dan Faridl, kami pun pergi ke Car Free Night. Tidak lupa membawa kamera (DSLR!!!!!!) dan tongsis (tangan Faridl!!!!!).

I know, it's a bit epic fail :))))

Sedikit memperpanjang cerita, kami berangkat selepas zuhur dari Jatinangor karena yesterday was also girls' shopping day! Yap, sebelum lucu-lucuan di CFN kami belanja-belanji dulu di Pasar Baru Bandung. Dengan menumpang bis Damri Tanjungsari-Kalapa, kami pun menjelajah Pasar Baru selama beberapa saat. Jelang maghrib, kami berjalan kaki dari pasar baru ke Jalan Kepatihan dan beristirahat sejenak di Grand Yogya Kepatihan -- makan, solat, ....foto-foto........

Yang ini sih mampir pose dulu di dekat alun-alun


Nemu spot foto lucu di Grand Yogya Kepatihan. Berasa foto studio :)))))

Setelah istirahat barulah kami beranjak ke Jalan Asia Afrika yang sudah teramat sangat dipadati pengunjung.

It's Car Free SatNite, people! Be merry!







Ada satu kejadian lucu. Ketika sedang duduk-duduk di trotoar jalan Asia Afrika, seorang wanita-tapi-pria bohay menghampiri kami sambil memainkan kecrekannya. Terjadilah dialog yang kurang lebih seperti ini....

Wanita-tapi-Pria: (menggoda Faridl) "minta gopek dong masnya"
Faridl: (panik, nervous, deg-degan, tergoda~) "..."
Gue: (ngakak) "seceng deh rid, seceng"
W: *insert logat banci here* "boleh deh seceng, harga BBM naik, kasian harga banci nggak naik"
Ayu: "foto bareng dulu sama Faridl dooong nanti ditambahin deeeh"

Singkat cerita Faridl pun dibujuk untuk foto bareng si Wanita-tapi-Pria

3....2.....1..... cheeese!

Salah seorang kawan kami (kanan) telah melepas masa jomblo :') Cucok cyiiiiin~
Hilariously fun!!!! :))))

Lelah menyusuri Jalan Asia Afrika, sekitar pukul setengah 9 malam kami pun pulang dengan menumpang angkot Kalapa-Dago dari Simpang 5 Asia Afrika ke Simpang Dago, karena travel malam yang akan mengantar kami kembali ke Jatinangor ada di Dipati Ukur.

To sum up, here's the collage of pics we've taken at Asia Afrika Car Free Night


Entahlah, apakah perjalanan semalam akan membuatku move on dari Asia Africa Parade 2015 dan kembali pada kerasnya dunia perskripsian :')

Monday, December 1, 2014

Sekelumit Kisah Refleksi Diri Anak Magang

Beberapa pekan belakangan, rutinitas gue berwarna. Gue nggak cuma berkutat sama setumpuk jurnal dan tugas kuliah, gue nggak cuma bolak-balik kampus-kosan--gue ngantor. *cielah gaya bet kiw* Iya, keharusan untuk menunaikan job training demi kepentingan 3 sks membuat hidup gue semester ini tidaklah gabut. Sangat tidak gabut.

Alhamdulillah, gue (kami, lebih tepatnya) dapet tempat jobtre yang tidak melihat diri kami sebagai anak-magang-sasaran-empuk-buat-dijadiin-OB-darurat. Di tempat ini, kekayaan intelektual kami dihargai *ahzek* atau setidaknya kerjaan kami nggak cuma mengkliping, memfotokopi, atau membuat kopi. Di satu sisi, gue bersyukur banget. Di sisi lain, jiwa gue yang ala-ala grumpy cat mulai bergejolak: gue nggak siap kerja. Loh, kenapa?

Masalahnya bukan karena gue merasa panik karena tidak memiliki skill (walaupun memang gue tidak memiliki skill), tetapi karena gue merasa bakalan nggak kuat kalau harus terkungkung dalam kehidupan kerja yang supermembosankan-walau-gue-memang-membosankan 8 jam sehari, 5-6 hari seminggu, 25-26 hari sebulan, 12 bulan setahun tanpaaaaaa ada istirahatnya. Apalagi, selama jobtre gue belajar entah bagaimana gue akan menjadi orang-orang yang harus siap andai waktu hibernasi gue di akhir pekan diambil juga untuk kerja. Craaaap! Terus kapan gue bisa tidur-sampe-bego? Kapan gue bisa ber"me-time"?

Kalau udah kayak gini, gue jadi amat sangat luar biasa bersyukur mengenal bangku kuliah: seminggu kuliah cuma 4 hari paling sering. Bahkan kutukan tugas seabrek-abrek yang datang menghampiri silih berganti pun bukanlah masalah besar, karena semua itu ada akhirnya: akhir semester. Kamu tahu apa yang terjadi di akhir semester? UAS. BUKAN. Libur, maksud saya. Libur dua bulan lamanya. Libur sampe otak di jempol kaki, jempol kaki di otak saking udah kelewat blo'onnya, hingga nggak ada materi kuliah yang nyangkut dari semester sebelumnya. Intinya, selalu ada air dingin yang siap menyiram tubuh mahasiswa-mahasiswa yang kepanasan akibat api neraka yang disulut oleh para dosen. Dan sialnya, air dingin itu mampet begitu akan disiram ke tubuh kebakar-deadline-kerjaan para orang kantoran.

Maybe after all, college life is the best moment of my life: the possibility to runaway from this never-ending-tiredness is much bigger than in any other life.

Tuesday, November 11, 2014

Blame Kodaline! : Solo-Traveling Mission to West Java ACCOMPLISHED!

Oke, udah beberapa bulan terakhir ini gue suka banget dengerin lagu "Brand New Day" nya Kodaline. Gue pernah ngepost video beserta liriknya di sini. Yes, lagu ini bikin gue mengkhayalkan sebuah perjalanan. Apalagi di tengah-tengah keriweuhan jobtre + kuliah + nugas semester ini, gue rasanya ingin melarikan diri beberapa saat. Daaaan.. lagu yang gue selalu on repeat ini benar-benar menuntut gue untuk merealisasikan pelarian tersebut.

I wanna travel the world but I...
I just can't do it alone
So I'm just waiting on fate to come
Wrap around me

And finally that fate had come to me. :)

Gue yang udah nggak kuat lagi dengan kejamnya hidup ini akhirnya berhasil memutuskan untuk minggat seorang diri! Minggat dari padatnya jadwal kuliah, minggat dari jam kantor, MINGGAT DARI UTS! XD (dan sampai tulisan ini dibuat, gue masih belom uts)

So where did I go?

That fate came to me through Kak Pipi's graduation. Yep, ngobrol-ngobrol seru di Line ama doi selama ini menyebabkan gue pernah janji "in sha Allah" bakal nyempetin dateng ke wisudaannya. I never thought I'd be serious on that promise. I thought I'd never been brave enough to run away from this busy schedule. I thought I'd never been brave enough to get lost in the cities I don't really know A-L-O-N-E. But I did it. KODALINE (through their song) FORCED ME TO DID IT. I feel superb.

Kamis, 30 Oktober 2014
Paginya, gue uts Riset Media dulu. Tapi semua distraksi dalam rangka melarikan diri membuat gue setengah hati belajar, setengah hati mengerjakan soal-soal, setengah hati yang jarang-jarang gue lakukan sebelumnya. Apa mau dikata, jiwa-raga ini telah lelah. Enggan ia disuruh menjadi perfeksionis seperti biasa. I can't blame myself for this. Semoga saja pekerjaan setengah hati itu setidaknya masih layak mendapat nilai B.

Siangnya, I had planned to go working first before go to the train station. Tapi lagi-lagi, kata 'minggat' telah membuat gue terdistraksi dari segala mood bekerja. Alhasil, gue titip pesan pada teman untuk mengabarkan apa yang perlu gue lakukan hari itu dan menyelesaikan pekerjaan gue dari kosan.

Petang hari, I can't wait anymore. Di atas travel ke Bandung gue nggak henti-hentinya nyengir. GUE MINGGAT. SENDIRIAN. SAMPAI JUMPA, JATINANGOR! SAMPAI JUMPA TUGAS, UTS, JOBTRE! :))) Jam setengah 8 malam kereta gue berangkat. Tujuan kereta: Solo. Tujuan gue: Semarang. Lah?

Jadi, kereta Bandung-Semarang itu cuma ada 1 macem. KA Harina, kelas Bisnis dan Eksekutif. Waktu gue mau beli tiket, gue liat harganya: MASYA ALLAH. 1 tiket kelas bisnis saja dihargai 280 ribu! Duh makasih :'D Kabur sih kabur, tapi masa pulang-pulang gue menggembel di Jatinangor gegara duit abis dipake traveling. Gue pun putar akal. Satu-satunya moda transportasi yang gue percaya seutuhnya untuk perjalanan jauh ke tempat asing sendirian kayak gitu adalah kereta api. Berhubung tiket langsung ke tujuan asal mahal, gue coba cari tiket ke kota lain, Solo, dengan KA Lodaya Malam. Kemudian dari Solo gue lanjut KA lokal Kalijaga ke Semarang. Voila! Lebih murah! Bandung-Solo kelas bisnis hanya 185 ribu rupiah. Solo-Semarang 10 ribu saja! Whoaaaaa! Hemat hampir 100 ribu, walaupun butuh waktu tempuh yang 4 jam lebih lama. Nggak masalah, toh gue emang niat jalan-jalan~

Jumat, 31 Oktober 2014
KA Lodaya tiba di Solo tidak lama sebelum azan Subuh. Gue pun menunggu beberapa lama sambil terkantuk-kantuk, berhubung KA Kalijaga baru akan berangkat pukul setengah 6. Gue sempatkan juga untuk solat Subuh di stasiun. Tak lama kemudian, kereta datang, Berangkatlah gue ke Semarang~

Sebelumnya gue udah pesan ama temen unyu gue yang merupakan anak gaul Semarang bahwa gue mau berkunjung dan dia bersedia menjadi tour-guide sekaligus tempat nginep. Dia adalah Alisya *uhuk* "Icong". Jadi, ketika gue sampai di stasiun Poncol, Semarang, si Icong lah yang jemput gue menuju kosan dia. Unyu banget kan dia~~

Acara wisuda Kak Pipi berlangsung hari itu juga pada siang hari. Tapi yaa namanya tamu, gue mah nunggu aja sampe prosesi selesai di sore hari. Okelah, yang penting udah ama Icong dan Oki (temen sekamarnya), gue bobok aja dulu ampe sore.

Sorenya, gue dianter-jemput Icong lagi (sumpah dia unyu banget) ke kampus Undip di Tembalang. Niatnya sih mau ngangkot aja, tapi rupanya sore itu angkot-angkot mager lewat kampus. Hiks, gue kan ga ngerti jalan......jadilah gue dianterin (dan dijemput) Icong :3

Wisuda di Undip ternyata nggak seramai wisudaan Unpad. Atau hanya perasaan gue aja. Tapi emang sepi. Atau hanya di hari itu aja. TAPI EMANG SEPI untuk ukuran wisudaan yang pernah gue datengin :'D Saking sepinya, gue sampe ketemu love-of-my-life-zaman-SMA gue di sana setelah 6 tahun nggak pernah liat wajahnya. :'( Gue bisa stres sendiri kalau janjian ama temen dateng ke wisudaan Unpad. Janjian di satu tempat aja butuh setengah jam baru ketemu. Untunglah, jadi gue nggak perlu kayak anak ilang di kampus orang :'D Setelah telpon-telponan bentar, ketemulah gue ama Kak Pipi. Happy graduation! ^^

Malam Sabtu adalah malam romantis gue bersama Icong, si ratu gaul Semarang. Kita makan malem berdua sebagai sesama jomblo dan sama-sama ngenes, dan pulang sebelum jam 9 saking ngenesnya.
Dinner unyu sama Icong. Kiw.

Sabtu, 1 November 2014
Gue berhasil memberdayakan sepupu gue yang kuliah di Semarang untuk mengantar-jemput gue dari dan ke rumah Eyang! HAHAHA! Iya, gue punya Eyang yang tinggal di Semarang bawah. Gue juga udah rencana mau mampir nginep semalem di sana. Tadinya gue agak bingung, haruskah gue minta anterin Icong lagi. Eh tapi ternyata mas Irfan nge-chat nanyain mau diajak ke mana. Yaudah, gue minta anter-jemput ke rumah Eyang, lah. :'D

Semalam di rumah eyang emang nggak melibatkan acara jalan-jalan. But to be at that place is a thing that I'll always miss from Semarang :)
Eyangku :3

Minggu, 2 November 2014
Hari terakhir di kota ini! Jam 9 pagi gue minta jemput sama mas Irfan lagi buat balik ke Tembalang berhubung barang-barang masih gue tinggal di Icong dan rencananya gue balik dari sana juga. Sebelum dianter ke kosan Icong, gue diajak keliling Undip dulu ama mas Irfan. Simpulannya: kampus sendiri lebih baik :'D Padahal Undip (alias Fakultas Kedokterannya) adalah kampus impian gue zaman SMA sampe udah kuliah di Unpad juga............heu. Tapi ada beberapa hal yang bikin (mau nggak mau) gue rindu sama kampus sendiri pas gue lagi di kampus orang. 1. Cuacanya. Biar panas, Nangor lebih adem dari Tembalang. Jauh-lebih-adem. 2. Odong-odong kampus. You definitely can't live without your own motorcycle or car in Tembalang. Angkot? Kayaknya nggak bisa diharapkan. 3. Gedung-gedung tiap fakultasnya yang emang gedung kampus banget. Kesan itu nggak gue dapatkan di Undip. Ada beberapa fakultas di Undip yang gedung-gedungnya kelewat mewah, tapi ada beberapa pula yang kelewat menyedihkan. Setidaknya itulah penilaian gue.

Untuk pulang, gue pun telah merencanakan transit di Solo. Bedanya, sekarang gue naik kereta ekonomi yang cuma 50ribuan ahahaha~ Tapi karena jadwalnya nggak tepat, gue nggak bisa naik kereta dulu dari Semarang ke Solo. Gue harus naik bus. Tapi gue nggak berani. Hehehehehehe. Gue cemas kalau macet, atau salah turun bus padahal waktu berangkat keretanya udah mepet. Daripada nggak yakin gue naik travel Joglosemar aja dari SPBU Srondol. 60 ribu :''''((( Solo-Bandung 50ribu, Semarang-Solo 60ribu, gimana ceritanya. :''''((( Sudahlah aku ikhlas saja.

Dari Semarang gue berangkat jam 1 siang, dianterin Icong dan Oki ke tempat travelnya. Keretanya jam 5.45 sore, jadi gue persiapkan waktu 4 jam 45 menit kalau-kalau macet hari Minggu. Ternyata lancaaaaarrrrrrr, jam 3 kurang gue udah di Solo. Tetoooot, nunggu banget nih 2 jam? Mana nggak boleh nunggu di peron pula, karena stasiun Purwosarinya ramai penumpang. Heu. Yaudah, gue ngebolang dulu naik Trans Solo ke.....
....
....
....
Solo Square!
AHAHAHAHAHA.
Dasar anak mall :)))

Letak Solo Square ama stasiun Purwosari emang cuma 2-3 halte Trans Solo, makanya gue berani. Untunglaaah~ Gue jadi bisa ngadem dulu di mall.

Kalau dibandingkan dengan mall di Bandung, Solo Square mungkin setara BIP. Lumayanlah, ada Gramedia walau mini, ada KFC, ada J.Co, food courtnya lumayan variatif. Toko-tokonya juga macem-macem. Tapi karena duit gue menipis, gue cuma muter-muter gak jelas di sana ahahaha. Nggak kerasa kok, tau-tau udah jam 5. Gue pun kembali ke stasiun.

Nunggu di stasiun nggak lama, kereta pun datang. Gue pun menghabiskan malam yang panjang dan tiada akhir di dalam gerbong kereta ekonomi............sumpah, nggak lagi-lagi -___- Sakit rasanya pantat ini. Mana duduknya bertigaan ama bapak-bapak, terus gue membelakangi arah jalan kereta. Iya, duduknya hadap-hadapan. Huhuhu, lain kali gue mending ambil kereta bisnis 200ribuan terus puasa seminggu juga gapapa deh.

Senin, 3 November 2014
Gue sampe di stasiun Kiaracondong jam setengah 4 pagi. SETENGAH 4 PAGI. :''') Dingin, sepi, ngantuk, sendirian pula gue. Anjir! Ada kereta api ke stasiun Rancaekek baru jam setengah 5-an. Astagaaaaa satu jam nunggu kenapa rasanya lama banget kalau lo lagi ngantuk, kedinginan, dan sendirian.............

Tapi akhirnya gue sampai dengan selamat di kosan jam 5 pagi. Ehehehe. Ada cerita sih sepanjang perjalanan dari Bandung ke Nangor. Mungkin nanti-nanti bakal gue share di sini. Mungkin enggak :P Pokoknya, gara-gara Kodaline, aku punya cerita minggat~~ *pake nada lagu Gara-Gara Kahitna*

*P.S.: I'm too lazy to upload more pics. So, let this post full of text ya!

Tuesday, October 7, 2014

Akhirnya Gue Galau Skripsi (2)

Gue berjanji untuk menuliskan apa yang terjadi dengan hari ini: apa yang terjadi dengan mata kuliah seminar dan kelangsungan presentasi proposal bab 1 gue. Jadi saatnya untuk menepati janji gue itu.

Yes, pagi tadi, sekitar 5-7 menit setelah azan Zuhur, gue memulai presentasi gue. AHAY. Gue berusaha memaparkan isi bab 1 gue sedemikian padat dan jelasnya tetapi musibah tetap datang: waktu 10 menit yang diberikan dosen tidak cukup. Hihi, tapi berhubung gue adalah orang pertama yang presentasi (orang kedua di hari pertama, sebenarnya), sang dosen maklum. Lagipula, alasan dia, ini masih latihan sidang skripsi. Jadi, ketidakmampuan gue memanajemen waktu presentasi dimaafkan. *peluk kecup dosen dalam hati*

So yeaaaah, I did it. Banyak revisi terutama terkait kesalahan teknik penulisan, kekurangan di sana-sini, tapi satu hal yang bikin gue shock, seriously shock:

TOPIK GUE DINYATAKAN LAYAK UNTUK PENELITIAN.

A
S
T
A
G
A
A
A
A
A
A
A


ALHAMDULILLAH.

Kalau gue bisa sujud syukur di ruangan itu gue akan melakukannya. Tapi karena gak bisa jadi gue melakukannya pas solat Zuhur. GAK DENG, gue gak sujud syukur juga karena lepas dari restu dari sang dosen seminar itu, masih ada kekhawatiran di hati gue. Uncertainty still tries to kill me.
(Harusnya gue tetep sujud syukur sih, gimana pun juga gue lolos dari apapun yang mungkin terjadi hari ini :v)

Entah mengapa gue merasa sang dosen nggak benar-benar mengulik skripsi gue, dari segi tema dan masalah yang gue kemukakan. Beliau hanya mengoreksi hal-hal yang gue rasa sifatnya teknis terkait penulisan bab 1. Ada beberapa teori yang dikritik Beliau, tapi gue rasa nggak seberapa dibanding perkiraan gue. Mungkin karena skripsi gue juga di luar ke-master-an Beliau. Beliau master penelitian-penelitian kuantitatif. (Bukaaaan, bukan master kakaknya sarjana adiknya doktor, tapi master kayak "suhu" gitulah) Sedangkan penelitian gue adalah penelitian kualitatif.

Bukannya gue meragukan kredibilitas dosen gue, tapi proposal temen gue yang kuantitatif diobrak-abrik abis gitu ama Beliau, padahal gue pribadi udah nganggep rencana penelitian dia jauh-jauh-jauh lebih aman untuk dieksekusi dibandingkan gue. Tapi kenapa yang sang dosen anggap aman untuk dieksekusi malah rencana penelitian gue yang dari awal gue merasa memiliki banyak celah untuk dihabisi...... Jadi --tanpa mengurangi rasa hormat ke dosen gue satu ini yang memang (tanpa perlu diragukan lagi) mantep banget kerennya buat jadi pembimbing penelitian-penelitian kuantitatif-- segala keragu-raguan gue terhadap topik gue entah mengapa tidak terobati dalam presentasi ini dan gue tidak merasa tercerahkan dari segi apakah topik yang gue pikirkan selama 5 hari ini layak untuk diajukan skripsi.

Huft. Sejujurnya gue berharap segala keraguan ini timbul semata-mata hanya karena sifat gue yang nggak pedean dan panikan.

Tapi memang, dari kemarin, dari masa kegalauan gue sedang di puncaknya, gue udah berniat untuk mendiskusikan topik ini dengan dosen-dosen kualitatif, setelah penelitian ini diperiksa dulu kelayakannya oleh dosen seminar gue. Siapa tau mereka punya pendapat lain seputar masalah yang gue angkat (atau malah menganggap penelitian ini buang-buang waktu --amit-amit) dan mereka bisa memberikan gue saran-saran yang bisa mengurangi ketidakyakinan gue. Kalau bisa malah mereka menganggap topik gue layak dieksekusi dan mereka bersedia membimbing gue setulus hati AHAHAHA NGAREP. :v

Jadi, tolong siapapun yang mungkin nggak sengaja kepleset masuk ke blog ini, DOAKAAAAAN agar kelangsungan tugas terakhir gue sebagai mahasiswa S1 diberikan kemudahan, kelancaran, pencerahan, sehingga gue bisa lulus dengan baik --meskipun sampai sekarang setelah lulus pun gue nggak kebayang mau jadi apa--. Aaamiin.

Si calon skripsi setelah dikoreksi oleh dosen gue yang luar biasa :) Sensor di sana-sini hehe. Makasih Pak/Bu! Hayooo Pak atau Bu? :P

Saturday, October 4, 2014

Akhirnya Gue Galau Skripsi

Baru beberapa minggu kuliah, belum juga uts-an gue udah bolak-balik galau. Sumpah ya semester ini emang puncak dari segala semester kayaknya. Emang sih, masih ada semester penghabisan, tapi rasanya kegalauan dari segala kegalauan yang mungkin terjadi di semester depan sangat dipengaruhi oleh keberlangsungan semester ini.

Awaaaaaaal banget, bahkan sebelum semester dimulai, gue udah kelimpungan nyari tempat jobtre. Kayak orang tolol gugling-gugling “mau magang dimana yaaaa”. Iya, keywordnya beneran itu. Gue udah pernah nulis tentang itu di sini. Dari jaman sebelum perwalian gue keliling Bandung nyari-nyari di mana gue bisa melaksanakan kewajiban 2 sks itu sekalian kuliah. Gue emang pengen menuntaskan jobtre sebelum semester ini selesai. Alhamdulillah, masalah satu itu kelar sebelum akhir September. Gue dapet tempat jobtre, dan insha Allah mulai Senin, 6 Oktober besok gue bertugas, sampai...entahlah, sampai kapan. Sampai 30 hari masa kerja gue –dipotong hari-hari yang gue tetap harus kuliah— habis. Bismillah, semoga segalanya lancar.

Beberapa hari setelah masuk kuliah, lagi-lagi gue dibuat galau sama topik-topik buat isu mata kuliah-mata kuliah media. Astaghfirullaaaaaah, nggak ada satupun topik yang gue ambil untuk masing-masing matkul itu yang jelas. Gue juga nggak tau ada apa dengan otak gue semester ini. Gue emang nggak kritis dan nggak kreatif, tapi biasanya nggak sebodor ini. Maluuuuu pisaaaaan rasanya inget-inget tugas dua matkul itu. Untungnya, tugas besar dua matkul media tersebut adalah tugas kelompok, which means, cuma ada satu topik yang diangkat dari satu kelompok. Dan tentu saja, topik orang lain masih tetap lebih layak daripada topik yang gue angkat. Selesai satu masalah. Err, nggak selesai-selesai amat sih. Belum selesai. Seenggaknya, topik aib kerjaan gue itu nggak disebut-sebut lagi.

KEMUDIAAAAAAN, SEKARAAAAAAANG.

Seminar.

Mata kuliah ini merupakan syarat untuk menggarap skripsi. Dan lagi-lagi permasalahan datang dari kemandekan otak gue untuk mendapatkan sebuah T-O-P-I-K untuk proposal penelitian. Aaaaaak! Sebenarnya gue sempat dapat topik yang menurut gue menarik. Baru aja hendak menggarap proposal, eh ternyata topik itu udah pernah dibahas di sebuah skripsi mahasiswa yang baru aja lulus awal tahun ini. Astaga, bener-bener sobek-sobek hati gue rasanya. Dalam hati gue merutuki orang yang skripsinya gue temuin itu: songong abis, mentang-mentang angkatan tua bisa-bisanya ngambil ide gue! #lahgimana Alhasil, gue falling to pieces tuh, dan otak gue ngambek, enggan melakukan produksi-produksi jenius lagi. Padahal deadline pengumpulan proposal tinggal lima hari, LIMA HARI. MAU MIKIRIN PENELITIAN APAAN LO DALAM LIMA HARI?!?! LO KIRA LO PROFESOR?! /le creys

Deminya, gue nggak deadliner dalam mengerjakan proposal ini. Dari hari H si dosen ngasih perintah untuk membuat proposal penelitian, dengan tenggat waktu 2 minggu dari waktu pengumpulan dan 3 minggu dari waktu presentasi pertama, gue udah mati-matian nguras otak untuk menemukan topik apa yang layak, menarik, dan penting untuk diteliti. Apalagi ditambah dengan kenyataan pahit bahwa gue nggak diizinkan konsultasi dulu ke sang dosen. Begitu sekalinya nemu topik dan ternyata kepala gue ketampol pake skripsi orang setebal 300an halaman dengan tema yang nyaris persis dengan rencana tema gue itu, gue seketika menjadi jauh lebih bodoh dari biasanya. Dengan perasaan yang panik, patah hati, bingung, kosong, hampa, gue memilih satu topik yang jatuhnya malah topik skripsi anak ilmu gizi daripada ilmu komunikasi. Iya, sedepresi itu gue.

Hingga akhirnya, inspirasi datang dari teman gue yang dengan prihatin mengatakan “Kenapa lo nggak pilih topik yang sesuai dengan kesukaan lo. Lo kan suka baca novel, kenapa nggak tentang novel. Kenapa misalnya novel itu terjemahannya biasanya busuk atau apalah.....” seketika suara teman gue melemah dalam kepala gue, dan gue yang masih tidak berdaya dan tidak berakal itu mengambil sarannya mentah-mentah.

Gue. Ambil. Saran. Dia. Mentah. Mentah.

Dari hari Jumat sampai Senin gue berjibaku dengan skripsi-skripsi di perpustakaan demi menuntaskan tugas gue yang deadlinenya hari Selasa pagi. Ya Allah, gue kerja udah nggak pake mikir panjang lagi. Seselesainya, Senin malam beberapa jam sebelum deadline pengumpulan, serangan galau pun menerjang gue L-A-G-I. Dan seluruh jiwa raga gue terasa lumpuh melihat betapa cetek dan penuh celahnya rancangan penelitian gue ini......Betapa tidak layaknya proposal ini dieksekusi.

Benar-benar nangis-nangis gue di kamar kosan.

“INI GIMANA MAU DIPRESENTASIIN DI DEPAN DOSEN?!?!?!?! GUE SENDIRI AJA UDAH NGGAK PUNYA KEYAKINAN SAMA TOPIK INI”

Yes, Sir and Ma’am. I’ll be presenting the topic next Tuesday. And I really have no power and courage to present this. There’s no good feeling left at all about this topic. Gue down-se-down-down-nya sama topik ini.

Semoga Allah masih membiarkan gue hidup sekeluarnya gue dari ruangan kelas seminar 7 Oktober yang akan datang.

Friday, September 12, 2014

Path: Sosmed dengan Spesialisasi Untuk Pamer (?)

Jumat siang-bolong-panas-kering-kerontang (12/9) ini gue berangkat ke kampus buat sebuah mata kuliah, satu dari tiga mata kuliah terakhir yang benar-benar butuh "perkuliahan" sepanjang masa bakti gue sebagai mahasiswa di kampus ini. Bukan satu-satunya kuliah di hari itu sebenarnya, tapi karena matkul sebelumnya juga didoseni oleh dosen ini (sang dosen megang semua kuliah gue yang tersisa semester ini, so...well), jadi rasanya agak-agak "meh". (Beliau juga pasti merasa "meh" karena ketemu kami lagi). Selepas shalat zuhur di masjid kampus, bergegaslah gue ke fakultas karena kelas dijanjikan dimulai sekitar pukul 13.00. Tau-taunya molor sampe jam 13.45. Yeah, as an introductory section of this post, I am trying to describe you how tiring it was to sit on that class and think clearly. So, whatever I wrote here about the lecture, it's just my another random thought.

Dikuliahi Beliau selalu menarik. Dikuliahi, bukan ketika Beliau meminta kami gue untuk berargumen di depan kelas. Oh you know, I'm A-blooded and I'm awkward. Contoh-contoh yang Beliau berikan untuk materi kuliah sangat mudah dipahami karena kekinian dan dekat dengan mahasiswa. Siang ini, waktu diskusi kelompok kecil terjadi diantara kami dengan sang dosen, salah satu teman membahas tentang bagaimana ia menganggap bahwa media sosial Path sering diasosiasikan sebagai media untuk pamer bagi para penggunanya.

Kebiasaan pengguna Path untuk mengunggah momen "place" ke akunnya menjadi contoh yang diberikan teman gue. Dia bilang, orang-orang update cuma ketika berada di tempat-tempat yang mahal, mewah, atau eksklusif....apalah itu, untuk pamer kalau mereka sering mengunjungi tempat-tempat seperti itu. Begitu juga dengan foto-foto yang diunggah. Apalagi, bukan rahasia kalau aplikasi Path hanya bisa dinikmati di smartphone, yang berarti sasarannya kaum menengah ke atas. Makanya, ia sependapat dengan banyak orang kalau Path seringkali digunakan untuk ajang pamer orang-orang berduit. Ditambah lagi, seorang teman lain di samping gue berbisik "makanya gue nggak mau bikin Path". Uh, seriously?

Setelah dia menjelaskan argumennya ini, pastilah ada tanggapan dari dosen. Tapi gue nggak fokus. Gue nggak dengerin gimana jawaban dosen secara keseluruhan, cuma samar-samar nangkep kalau beliau juga lagi melakukan penelitian seputar penggunaan Path. Gue anggep tanggapan beliau sebagai angin lalu, karena seketika itu juga the randomest part of my brain bekerja dan menghasilkan tanggapan pribadi gue akan isu yang dilemparkan teman gue ini. Ingat: tanggapan ini hasil buah pikir bagian random otak gue, jadi yaa random juga hasilnya.

Tanggapan pertama gue adalah seriusan nih cuma Path doang yang dapet penghakiman sebagai sosmed pamer? Gimana dengan Instagram? Oke, mungkin Instagram cuma bisa buat foto sama video, nggak bisa buat pamer "gue lagi di menara eiffel nih". Eh masa?....bisa kok, di foto yang lo unggah ke Instagram kan bisa lo tambahin 'location'. Bisa lo tambahin hashtag macem-macem pula, seringkali hashtag yang agak narsis: #AyuGoesToParis blablabla *lah*. Nah, apa nggak pamer juga tuh namanya? Lagipula, sebelum Path booming, udah ada sosmed update lokasi sejenis kok: Foursquare. Terus kenapa Path yang "dibully"? :)))

Terus, gue juga mikir. Perasaan dari dulu yang seringkali terlintas di timeline gue kala mainan Path adalah gambar-gambar koplak dan gombal. Mulai dari lelucon Khong Guan, nama-nama artis yang diplesetin, dan lain-lain. Kalau benar citra Path sebagai sosmed buat pamer, berarti postingan koplak kayak gitu juga bagian dari ajang pamer-pameran siapa yang lebih lucu gitu? *mind blown*

Teman gue yang tadi dengan bangganya ngomong bahwa citra Path yang dianggap untuk pamer inilah yang membuat dia ogah membuat akun Path juga bikin gue bingung. Bukankah dengan berceloteh bahwa dia nggak mau pamer adalah bentuk pamer dirinya sendiri? Iya, dia pamer kalo dia gak punya Path karena gak mau pamer. *Pamerception*

Bukannya ngebelain Path, gue sendiri sebenarnya tim Twitter garis keras karena sejauh ini cuma di Twitter gue bisa nongkrongin livescore pertandingan-pertandingan Jerman dan klub-klub Bundesliga dengan mudah. Ngepo tentang apapun juga gampang banget di Twitter, apapun bisa dikepoin. Begitupun dengan interaksi: di Twitter, interaksi nggak terbatas, bisa dengan siapa saja, mulai dari teman sesama fans Jerman sampe pemain timnas Jermannya sendiri, Seringkali pula gue nyinyir tentang orang-orang yang seluruh isi tweetnya merupakan momen dia di Path yang disinkronisasikan ke Twitter. But...seriously guys, menurut gue ANEH kalau orang-orang menganggap Path sebagai sosmed dengan spesialisasi pamer, karena aktivitas pamer itu terletak di mental masing-masing pengguna sosmednya. Kalau memang dia punya mental hobi pamer, semua sosmed yang dia miliki bisa jadi ajang pamer, bukan Path doang. Dan untuk masalah Path dianggap eksklusif karena cuma bisa dinikmati sama pengguna smartphone, gue rasa itu perkara waktu. Instagram juga sampai sekarang masih "eksklusif", tapi sekarang perlahan-lahan banyak tuh web yang bisa dipake buat mengakses Instagram lewat browser, misalnya Statigram (sekarang Iconosquare). Meskipun kayaknya belom bisa buat unggah fotonya ya.... CMIIW. (Anyway, tambahan nih, kayaknya orang-orang yang pro paham deh cara mengoperasikan aplikasi-aplikasi smartphone di browser.) See? It's just the matter of time.

Jadi....ya gitu. Gue rasa stereotype tentang Path sebagai ajang pamer mesti dipikir-pikir lagi, deh. :)))

Sunday, August 31, 2014

let me google this: "mau magang di mana yaaa"~~~

Ciao!

Rasanya udah ratusan kali gue berjanji bakalan rajin-rajin mampir ke blog ini, mengisinya dengan hal-hal berguna. Tapi ratusan kali pula gue melanggar janji gue itu. Ratusan kali juga gue beralasan "God I have no time to do such thing!" sementara tetap saja ratusan twit nggak jelas selalu membanjiri timeline gue tiap hari. Iya, gue segabut itu.

Gue udah semester tujuh nih. Setua ini masih aja makan gaji buta. Pengangguran. I'm those kind of Pasivis-kelas-berat! (Pasivis: the opposite term for the very active college students called 'aktivis' hahaha!) Dari jaman semester satu rasa-rasanya jarang banget gue nggak gabut. Eits, bukan berarti tugas kuliah gue menye-menye--sekali kedip beres. Kalau udah dikejar deadline hidup gue nggak kalah miserable kok sama anak-anak fakultas 'ono' dan 'anu'. Yaa maksud gue, selepas menyelesaikan kewajiban nugas, kerjaan gue cuma tidur-makan-ngobrol ama Bebear-nongkrong depan laptop; browsing nggak guna atau nonton film. Sepasif itu hidup gue sebagai seorang mahasiswa, sebagai pemuda, yang seharusnya punya kekuatan untuk mengubah negeri. Apalah.

*What the hell am I doing here*

Kewajiban gue di semester tujuh ini, di penghujung bulan Agustus yang belum menunjukkan tanda-tanda akan mengurangi suhu panas dan keringnya ini, adalah mencari tempat job training. (Atau PKL, internship, KP, magang... apapun istilah yang kau gunakan, Nak.) Sebenarnya, kewajiban ini telah terikat di punggung gue sejak semester enam. Banyak teman-teman sepermainan gue yang udah mengambil 2 sks job training, beberapa di antaranya sudah terlepas dari ikatan ini, alias udah kelar jobtrenya. Sedangkan gue? Gue baru sempat (baca: baru kepepet) memikirkan hal ini sekarang. Jadi...ayolah, let's be serious about this now.

My real problem is:
1. I haven't decided my job interest. Jenis pekerjaan macam apa yang bikin gue betah, sehingga ngga gue anggap sebagai beban nantinya. Prinsip gue adalah: kerjakan apa yang kamu cintai di atas cintai apa yang kamu kerjakan. Selain itu, prinsip gue juga menemukan tempat magang yang membawa gue menuju karir yang sesuai selepas lulus nanti.
2. I am definitely an unskilled person. Untuk ukuran bidang kuliah yang gue geluti, gue ngga punya kemampuan yang menunjang! Man! Gue bisa jadi apaan sih?? Pengalaman organisasi sepanjang kuliah gue aja minim! Who want to accept my application, anyway?
3. For an unskilled person, I am too fastidious. Banyak maunye, ngga mau magang di A soalnya blabla tapi ngga mau di B juga karena bzzbzzbzz. Padahal belum tentu A dan B mau nerima gue juga. *sigh*

Untuk poin terakhir sih rasanya.......let the power of kepepet do its magic.

Saking pusingnya gue mau jobtre di mana, gue sampe berulangkali googling "magang di mana yaaaaa"~~~

Oke, itu kewajiban semester tujuh yang pertama. Kewajiban kedua adalah mulai memikirkan topik skripsi.

Nah, kalau buat skripsi, gue terhitung tepat waktu kok sampai detik ini, mengingat di tempat gue menuntut gelar sarjana kebanyakan mahasiswa ngambil skripsi baru di semester 8, setelah menyelesaikan seluruh mata kuliah konsentrasi. Di tambah lagi, konsentrasi di jurusan gue lumayan dewa, sampai semester 7 masih menyisakan 'hutang' 6 sks. Maka, mustahil bisa mengeksekusi skripsi sebelum semester 8. Tapi setidaknya, di semester 7 ini gue udah harus memulai, supaya di penghujung semester 8 gue udah bisa LULUUUUUS.

Untuk kewajiban yang ini, masalahnya cuma satu:
Gimana ceritanya bisa mikirin topik skripsi kalau belum dapet tempat jobtre #lah. Selama masih ada yang ganjel di hati gue, gue nggak bisa ngerjain hal yang lain duluan. Menyelesaikannya bersamaan juga bukan ide bagus. Bukan buat gue.

Hahahahahahahaha! Tetep aja kembali ke masalah "magang di mana yaaaaa"~~~ *gugling lagi*

Pesan gue buat mahasiswa baru: kalo organisasi di kampus lo nggak sesuai dengan prinsip dan idealisme lo, carilah kegiatan lain yang membuat diri lo lebih ber-skill. Cari tambahan les atau ikut workshop apa gitu, biar ada yang bisa lo jual di CV lo. Jangan jadi pasivis. Pasivis di kampus sih boleh-boleh aja, tapi jangan jadi pasivis dalam hidup.

Sekian dan terima pinangan abang.

Tuesday, November 29, 2011

i'm still an old Ayu

They all keep asking me: "Ayuuu gimana disanaaa? Udah gaul beloooom?" or "Cie anak nangor, pasti tiap hari ngehedon mulu deh :P" or "Beda deh anak F***m, gue mau liat style kerudung lo sekarang. Atau jangan-jangan udah lepas? XD"
GUYS I'M STILL AN OLD AYU.
I HAVEN'T CHANGED.
AND NEVER FOREVER.
I swear for that.
-_-

Besides, tho i've been familiar with my new place, i still don't understand why people think i may change my behavior.
They never know me at all, eh?
Or they just make an irony at me, as they extremely recognize that i won't be able to adaptate with my new life.
They recognize that i've chosen a wrong path for my future.


(Please God, don't tell me that i've made one unforgivable decision :|)


One thing i can ensure you is:
I'll never change.

I'll be difficult to recover from this Xenophobia.

Thursday, August 4, 2011

my ospek stuffs -__-

name tag and name tag all over again -___-

book that have to be collected..
actually, there are more and more ospek stuffs, but.... i haven't made it. oh. me gusta!