Showing posts with label novelovers. Show all posts
Showing posts with label novelovers. Show all posts

Thursday, August 20, 2015

Tontonlah sebuah film hingga selesai, hingga "credit title" usai..........

Kalimat judul posting ini adalah sebuah petuah yang saya dapatkan ketika bergabung selama beberapa bulan saja dengan UKM sinematografi kampus. Iya, saya pernah bergabung, bahkan sempat membuat sebuah film sebagai "syarat" keanggotaannya. Belum sampai peresmian menjadi anggota, saya sudah kabur. Saya baru sadar di tengah jalan bahwa saya enggan berpartisipasi dalam organisasi apapun di kampus saya. Padahal, justru masa-masa menjadi mahasiswa adalah masa-masa di mana orang-orang berlomba-lomba untuk mencicipi serunya bergaul dalam organisasi: pikiran sudah cukup "matang", tetapi idealisme masih tetap kuat dipegang. Mahasiswa, katanya begitu. Singkat kata, sejak tingkat satu saya enggan ikut UKM apapun. Alhasil, hingga tahun terakhir ini, saya adalah mahasiswa kupu-kupu. Amat jarang merasakan jadi kura-kura :D

Kembali lagi ke masalah kalimat judul postingan ini. Lalu, apa pentingnya menonton film hingga credit title usai dan kegelapan menyelimuti layar? Saya sih biasanya melihat credit title hanya untuk mencari tahu siapa pemeran tokoh X di film tersebut, misalnya, karena aktingnya bagus atau wajahnya ganteng, dan sebagainya. Atau saya hanya ingin tahu lagu-lagu apa saja yang menjadi soundtrack di film itu. Seringkali, alasan saya tetap tinggal di dalam studio bioskop hingga akhir bukanlah untuk melihat credit title melainkan mendengar lagu penutupnya sampai selesai. Saya yakin kebanyakan penonton film di bioskop juga sama seperti saya: tepat setelah film habis langsung keluar dari studio, atau setidaknya menunggu hingga antrian penonton yang keluar studio berkurang.

Apa pentingnya menonton film hingga credit title usai? Bukankah film-film layar lebar yang diputar di televisi toh seringkali dipotong atau dipercepat bagian credit title-nya? Ya, bahkan untuk melihat nama-nama pemerannya saja tidak bisa karena durasi yang sudah lewat batas.

Setelah petuah itu saya dapatkan di suatu sore saat kumpul rutin UKM dan saya pun merasakan sendiri betapa riweuhnya proses membuat film PENDEK (pendek aja udah riweuh, duh), saya baru sadar pentingnya mengapresiasi seluruh kru yang terlibat dalam proses pembuatan suatu film melalui menonton karya mereka hingga akhir. Saya pernah merasakan sendiri besarnya kebahagiaan saya ketika melihat nama saya berada dalam credit title film tersebut, meskipun saya bukanlah sutradara, produser, atau pemegang tugas-tugas mahabesar lainnya. Meskipun saya hanyalah pengatur pencahayaan. Meskipun saya hanyalah asisten camera person. Meskipun saya hanyalah <insert an unimportant job here>. "Akhirnya.........."

***

Bertahun-tahun setelah saya memaknai petuah tetua UKM sinematografi tersebut, saya baru sadar bahwa kalimat tersebut juga berlaku untuk buku. Coba saya tanya: seberapa sering Anda membaca halaman identitas buku yang berada di bagian-bagian depan sebuah buku? Iya, di halaman tersebut tidak hanya tercantum judul dan nama pengarang, tetapi juga nama penerjemah (jika buku terjemahan), editor, proofreader, desainer sampul, dan lain-lain. Seberapa sering Anda membaca atau setidaknya memperhatikan nama-nama yang tertera di halaman tersebut?

Sadarkah Anda bahwa buku masterpiece yang Anda baca itu melalui proses yang amat panjang sebelum sampai ke tangan Anda? Dan proses tersebut berlangsung karena adanya kerja keras dari banyak tangan; tidak langsung dari tangan penulis ke tangan Anda?

Saya termasuk orang yang apatis itu. Saya hanya ingat judul buku, pengarang, lalu penerbit. Ya, ingat bahwa buku X diterbitkan oleh penerbit Y saja rasanya sudah syukur alhamdulillah. Suatu waktu saya malah pernah menanyakan kelanjutan suatu buku yang diterbitkan oleh penerbit Y ke akun Twitter penerbit Z saking 'ignorant' nya saya..... Bagi orang-orang yang tidak ikut merasakan berkeringat deras dalam proses produksi sebuah buku, hal tersebut mungkin sepele. Tapi...ah, masa sih Anda se-ignorant saya?

Kejadian salah penerbit itu seharusnya membuat saya malu dan jadi lebih perhatian pada halaman identitas buku. Nyatanya, hati saya baru tergerak untuk lebih perhatian pada halaman tersebut setelah saya melihat nama orang yang saya kenal baik tercantum dalam halaman tersebut. Bukan sebagai penulisnya, toh nama penulis selalu tercantum di sampul, melainkan sebagai penerjemah. Rasa bangganya pada "karyanya" membuat saya terharu dan jadi bersimpati kepada orang-orang lain yang juga merasa bangga karena hal yang sama namun saya tidak mengenalnya :"D

Kejadian lain yang menggerakkan hati saya untuk lebih mengapresiasi lembar identitas buku justru datang dari pengalaman tidak mengenakkan. Saya membaca sebuah buku terjemahan yang sangat...sangat...menguras emosi saking tidak bagusnya. Padahal buku tersebut adalah best-seller di negara asalnya dan populer di dunia maya. Sejak saat itu, saya seperti memasang sensor peringatan pada diri saya: setiap kali melihat buku terjemahan terbitan penerbit tersebut, saya akan berpikir dua-tiga kali untuk membelinya.

Setelah kesadaran itu timbul, saya justru malu sendiri, karena seringkali saya berpuas hati akan aspek "perintilan" suatu buku (covernya bagus, terjemahannya tepat, suntingannya tanpa cela) tanpa mengetahui siapa orang dibalik kesempurnaan itu. Iya, malu banget, dulu baca Harry Potter terjemahan dari 1-7 tanpa mengenal siapa penerjemahnya. Malunya baru kerasa sekarang. Duh, Yu. Padahal membaca buku bukan kegiatan yang jarang saya lakukan. Tapi ketidakacuhan saya ini memang parah--memalukan.

Mana apresiasimu pada orang-orang yang menghadirkan mahakarya kesukaanmu, Yu?

***

Ketika Anda secara tidak sengaja tersasar ke blog ini dan membaca posting yang super panjang ini, sudikah Anda untuk menonton film hingga kegelapan menyelimuti layar? Sudikah Anda lebih peduli pada lembar identitas buku yang Anda baca? :)

NB.: Cara yang paling baik dalam mengapresiasi karya film atau buku adalah dengan tidak mengonsumsi produk bajakan. Jadi...beli yang asli, kalau memang tertarik. Kalau tidak yakin tertarik atau tidak.....cari pinjaman jauh lebih baik daripada unduh ilegal. Hihi.

Tuesday, January 20, 2015

Resensi — "Lockwood & Co. Back in Action!"

"TENGKORAK BERBISIK"
Penulis: Jonathan Stroud
Alih Bahasa: Poppy D. Chusfani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2015
Tebal: 488 halaman
Harga: Rp 86.000
Genre: Fantasi, Horor

Jempol gue lucu kan :3
A.J. LOCKWOOD & CO., PENYELIDIK
SETELAH GELAP, BUNYIKAN LONCENG
DAN TUNGGU DI LUAR GARIS BESI

Begitulah bunyi tulisan di papan nama pada pagar sebuah rumah di Portland Row nomor 35. Ya, rumah ini menjadi markas bagi agensi pemburu hantu dengan tim paling kecil di London, Lockwood & Co. Tujuh bulan setelah kejadian Undakan Menjerit yang terkenal, Lucy dan kawan-kawan kembali menjalankan misi: memburu hantu yang menjadi Masalah di London sejak berpuluh-puluh tahun silam.

Seperti pada buku pertama seri Lockwood & Co., aksi tiga agen muda Anthony Lockwood, George Cubbins, dan Lucy Carlyle ini diawali dengan kegagalan Lockwood & Co. menyelesaikan misi. Kali ini, misi yang gagal di tangan mereka adalah memburu 'Wraith' alias hantu tipe dua yang berbahaya di Wimbledon. Kekeliruan George dalam meriset menyebabkan mereka harus 'kalah' dalam mengatasi Masalah dari sekelompok agen Fittes, yang dipimpin oleh pesaing terbesar mereka Quill Kipps. Rasa malu dan geram membuat Lockwood dan timnya mengajukan tantangan pada tim Kipps.

"Jika kita berkesempatan memecahkan kasus bersama-sama lagi, tim yang memecahkan masalah yang menang. Kemudian yang kalah akan memasang iklan di The Times, secara publik mengaku kalah dan menyatakan bahwa tim yang lain lebih baik daripada timnya sendiri. Bagaimana? Kau akan menganggap itu menyenangkan, bukan, Kipps?" (halaman 35)

Alhasil, tantangan pun diterima oleh tim Kipps dari agensi Fittes.

Sementara itu, Lucy yang telah menghabiskan setahun pertamanya bersama Lockwood & Co.‒ mendapati dirinya dapat berkomunikasi dengan hantu tipe 3 berwujud kepala tengkorak yang terkurung di dalam wadah milik George. Bakat baru ini sangat hebat; hanya Marissa Fittes yang legendarislah yang disebut-sebut bisa berkomunikasi dengan tipe 3. Jika kekuatan Lockwood terletak pada daya-lihat serta karakternya yang berkarisma sedangkan kekuatan George adalah pada kemampuan risetnya yang cermat, bakat Lucy adalah memiliki daya-sentuh dan daya-dengar yang sangat andal. Tetapi, selama ini kekuatan mereka bertiga belum cukup mengangkat pamor Lockwood & Co. di antara agensi-agensi lainnya. Dengan adanya bakat baru Lucy ini, Lockwood & Co. tak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Di tengah-tengah kesibukan ketiga agen ini dengan si tengkorak, pada suatu malam, datanglah klien Lockwood & Co. berikutnya. Mr. Saunders dan Mr. Joplin meminta bantuan mereka untuk menangani Masalah di Pemakaman Kensal Green. Masalah di pemakaman ini melibatkan makam Dokter Edmund Bickerstaff, yang dianggap sebagai orang yang kejam dan mengerikan semasa hidupnya. Tengkorak terlupakan, pekerjaan dibereskan oleh Lucy dan kawan-kawan.

Masalah sudah berhasil ditangani. Sumber sudah benda yang menghubungkan arwah gentayangan dengan dunia manusia‒ berhasil diamankan. Namun, tiba-tiba kekacauan terjadi kala sebuah benda relik berbahaya berupa cermin kaca yang terbuat dari tulang manusia dicuri seseorang dari peti mati Dokter Bickerstaff!

Pengejaran terhadap pencuri yang melibatkan DEPRAC (Departemen Riset dan Ahli Cenayang) pun dimulai. Untuk meringkus pencuri dan mendapatkan kaca-tulang tersebut, Lockwood dan kawan-kawan harus berhubungan dengan kaum kriminal: para pedagang relik. Mereka juga harus berhadapan kembali dengan Quill Kipps, yang turut serta diminta DEPRAC memecahkan kasus yang sama. Tidak hanya itu, ternyata tengkorak dalam wadah memiliki hubungan dengan kasus ini. 

Seakan segalanya belum cukup rumit, misi Lockwood, Lucy, dan George kali ini juga dibumbui oleh kecurigaan antara satu dengan yang lain. Atas pengaruh si tengkorak yang licik dan cerewet, Lucy curiga pada Lockwood terhadap sikapnya yang tertutup. Sedangkan Lucy dan Lockwood curiga pada George yang belakangan bertingkah ganjil. Lalu, bagaimana dengan George? Tidakkah ia merasa curiga pada siapapun?

***

Dikisahkan dari sudut pandang Lucy Carlyle, buku kedua serial Lockwood & Co. lagi-lagi mampu membuat saya serasa terkena "sentuhan hantu": sensasi dingin menjalari seluruh tubuh yang diikuti perasaan kebas. Kegelapan mengisi latar cerita ini, sebagaimana kota London yang tengah menghadapi ketakutan atas wabah hantu selama berpuluh tahun terakhir. Beberapa deskripsi hantu yang diberikan Lucy dalam buku ini berhasil membuat jantung saya berdegup kencang dan bulu kuduk meremang bahkan sejak halaman-halaman awal buku. 

"Sekarang dia benar-benar jelas. Rambut hitam panjang terkulai pada tengkoraknya. Sisa-sisa mata masih ada di rongga sebelah kiri, namun yang satu lagi sudah kosong. Kulit membusuk yang keriput menggelantung di tulang pipi dan rahang bawahnya mencong di atas tulang selangka." (halaman 14)

Tidak hanya merasakan suram dan seram, senyum nyengir akan seringkali menghiasi wajah pembaca Tengkorak Berbisik ini. Hal ini disebabkan beberapa deskripsi dan penilaian Lucy terhadap kelakuan kawan-kawannya, terutama George.

"Dia (George) memasukkan tangan ke bagian bokong celana olahraganya dan menggaruk-garuk dengam gusar." (halaman 44)

Humor sarkas George Cubbins yang berulangkali memancing gelak tawa saya pada Undakan Menjerit tidak lagi tampil cukup sering. George menjadi agak serius di sini. Tetapi...Oh, jangan khawatir, tetap saja, humor sarkas khas Jonathan Stroud tersaji lewat ucapan-ucapan si tengkorak dalam wadah yang mengingatkan saya pada tokoh jin Bartimaeus di trilogi Bartimaeus karya lain milik Mr. Stroud.

"Apa, George si Gendut? Lockwood si Penipu? Ooh, ya, brilian. Tim yang hebat." (halaman 115)

Sebagai penggemar buku pertama serial Lockwood & Co., saya telah menunggu kehadiran buku ini hampir setahun lamanya. Lepas dari beberapa kesalahan pengetikan, Tengkorak Berbisik saya anggap layak mendapatkan rating 4,5 dari skala 5. Bagi para pembaca yang belum menikmati kisah mereka sebelumnya, jangan khawatir, karena buku ini dapat dinikmati secara tersendiri tanpa harus membaca buku pertama. Misi-misi seru Lockwood & Co. berbeda dalam tiap bukunya. Istilah-istilah per-hantu-an yang telah dijelaskan di buku pertama pun disediakan kembali dalam bentuk glosarium pada bagian belakang buku ini. Meskipun demikian, sayang rasanya jika melewatkan aksi seru Lucy dan kawan-kawan dalam "Lockwood & Co. 1: Undakan Menjerit" yang juga telah diterbitkan Gramedia.

Jadi... Siapkan secangkir teh dan sekotak donat, tabur serbuk besi di sekelilingmu, dan rasakan sendiri pengalaman memburu hantu bersama Lockwood & Co.!

Monday, March 3, 2014

Buku dan (Galaunya) Remaja Indonesia

Inspiration to write a new blog post comes from anywhere. I'm quite sure about it.

Termasuk dari Twitter.

Baru saja, ketika sedang asyik scrolling timeline, aku menemukan suatu hal yang 'menarik' di daftar worldwide's trending topic, yaitu sebuah kalimat "suka ke toko buku". Memang bukan hal yang luar biasa sih, melihat prestasi negeri ini di situs jejaring sosial. Prestasi nyampah maksudnya.. Secara naluriah (cielah), langsung saja kuklik tautan yang tertera. Benar saja, ternyata pada saat itu ada banyak tweeps Indonesia yang baru memposting twit seperti itu: meretweet pertanyaan dari sebuah akun tanya-jawab yang nggak jelas dan nggak guna tapi followersnya ratusan ribu tentang apakah para followers yang kebanyakan remaja menyukai pergi ke toko buku atau tidak.

Penasaran apa sebagian besar jawabannya?



Nggak, nggak akan gue sensor nama-nama akunnya. :)))

Lihat jawaban "nggak. bikin pusing." atau "engga, so rajin amat gue baca2 buku wkwk"? Ada apa dengan pertokobukuan di Indonesia ya? Apa memang sebegitu menyeramkannya? Atau lebih parah lagi, ada apa dengan citra pembaca buku di mata anak-anak Indonesia sekarang? Apakah membaca buku terdengar sebagai sebuah hobi yang serius dan tidak menyenangkan?

Bukan, postingan blog kali ini bukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Aku cuma ingin menyuarakan pertanyaanku. Ada apa sih dengan hobi membaca? Aku suka baca, yaa bukan baca buku-buku yang berat sih, palingan novel dari berbagai genre. Tapi tetap saja, kenapa orang-orang menganggap kalau buku-buku yang aku baca selalu serius? Bahkan novel anak-anak seperti yang ditulis oleh Rick Riordan saja membuat teman-temanku geleng-geleng kepala kala melihatku membawa buku itu ke kampus dan membacanya di waktu luang.

Bahkan sekadar untuk novel-novel ringan doang, tetep bikin toko buku jadi tempat yang bikin pusing, ya? Itu penilaian untuk toko buku sekelas G*amedia atau G*nung Ag*ng loh. Gimana penilaian tentang perpustakaan sekolah atau kampus? Boro-boro dikunjungi, tau lokasinya di mana aja palingan kagak.

Maaf nyinyir. Tapi yaaaa mau jadi apa negara loooo kalo adek-adek kelas lo yang masih pada duduk di bangku sekolah lebih sering menghabiskan waktunya di depan layar smartphone untuk ngegalauin pacarnya masing-masing daripada baca buku --BAHKAN HANYA SEKADAR NOVEL FIKSI!!!--? Ah sudahlah.

Beruntunglah aku dan segelintir anak-anak lain yang telah dikenalkan pada buku serta toko buku dan perpustakaan sejak zaman prasekolah.

Peace, anyway..
And don't forget, bookworm is a new definition of sexy :))

Wednesday, February 26, 2014

Books into Movies 2014: DON'T WATCH BEFORE YOU READ THEM!

Tahun 2014 menjadi surganya para pecinta genre novel young-adult. Dua buku yang menjadi primadona pembaca di Goodreads, siap ditayangkan di layar lebar: The Fault in Our Stars (John Green), dan Divergent (Veronica Roth).

Initiates, Nerdfighters, are you ready? Here are the trailers..

The Fault in Our Stars: The Movie

Divergent The Movie

Hal yang menurutku menggelikan dari dua film yang merupakan adaptasi dari novel-novel laris ini adalah heroine-nya merupakan aktris yang sama: Shailene Woodley (sebagai Hazel Graze Lancaster di TFiOS dan Beatrice "Tris" Prior di Divergent). Lebih menggelikan lagi, lawan bermain Woodley di TFiOS, Ansel Elgort (sebagai Augustus 'Gus' Waters) merupakan aktor yang memerankan Caleb Prior di Divergent. Caleb merupakan seorang Erudite kakak kandung bagi Tris. Untungnya, Elgort tidak memerankan tokoh Tobias "Four" Eaton. Four diperankan oleh Theo James yang sesungguhnya terlihat terlalu tua bagi Four.

Oh ya, ada juga The Maze Runner karya James Dashner, untuk para Gladers yang sudah menunggu lama dan kehabisan kesabaran. Anyway, the book is really great with dark set and fast-paced plot. I love it a lot.

OUR BELOVED GLADERS COME TO SCREEN!

Ada buku-buku apalagi yang bakal difilmkan tahun ini?

The Giver karya Lois Lowry. The Maze Runner karya James Dashner (i love this book so much!). Gone Girl karya Gillian Flynn. The Best of Me karya Nicholas Sparks (used to be very romantic, isn't it?). Mockingjay (Part 1) karya Suzanne Collins. If I Stay karya Gayle Forman (AWWWW MY FOUNTAIN OF TEARSSS).

Want to find out more?

Sebuah artikel di situs Buzzsugar membahas tentang film-film adaptasi novel yang akan ditayangkan tahun ini. Totalnya ada 35 film, katanya, aku tidak begitu familiar dengan buku-buku lainnya. Check them all out here.

Have you checked out the list? Great, it's time to grab those books, before you watch it. Happy reading! ;)

Saturday, November 30, 2013

UnWholly - Review

I had reviewed this on my Goodreads account. Check this out: https://www.goodreads.com/review/show/659170977

Bagi yang udah baca Unwind lama, udah lupa, tapi mau baca UnWholly tanpa harus baca ulang, Mr. Shusterman memberikan kita beberapa halaman untuk recalling memory tentang term-term yang dipake di Unwind kok.

Kembali lagi pada Connor, Risa, dan Lev yang ketiganya telah jadi legenda.... Connor sebagai Akron AWOL beserta Risa yang selalu ada di sampingnya, serta the holy tithe turns to be a clapper Leeeeevvvvv Caldeeeeeer (di tengah buku nama belakangnya ganti)~ Connor dianggap sudah tewas oleh semua orang (view spoiler). Risa, dengan alasan yang sama kenapa orang kira Connor tewas, sudah dianggap tidak lagi cukup berharga untuk di-Unwind. Adapun Lev jadi tahanan rumah karena perbuatan kerennya. Hehe. Yes, i'm a fan of Lev.

Di buku kedua ini, ceritanya fokus ke Graveyard, tempat penampungan anak-anak AWOL, alias kaum Unwinds yang berhasil melarikan diri dari Juvey-Cops. Graveyard ini dipimpin oleh sang Akron AWOL, sedangkan term UnWholly merujuk pada The Whollies: sebutan bagi para pemimpin-pemimpin "divisi" di Graveyard. Setelah Happy Jack, batasan usia anak yang bisa di Unwind dikurangi, jadi 13-17 tahun. Tapi, bukan berarti hal tersebut jadi kabar baik. Para orangtua malah jadi terdesak untuk mengirimkan anaknya ke Harvest Camp lebih cepat. Dan iklan-iklan "layanan masyarakat" (heyaaaahh...) tentang betapa positifnya kegiatan Unwind semakin gencar dilakukan. Di UnWholly juga, para Unwinds bukan cuma melarikan diri dari kejaran Juvey-Cops, tetapi juga dari pasar gelap yang menjual bagian-bagian tubuh manusia secara ilegal.

Beberapa tokoh baru muncul, Miracolina "the other holy tithe", Starkey "the stork boy" (yang sumpah pengen gue Unwind saking bencinya), Trace, Nelson, Roberta, dan.....

.....

"the greatest hope for the human race"
Camus Comprix.
The one that being illustrated on the cover.
Akhir buku ini mengungkapkan bahwa memang, segala distopia ini berawal dari utopia. :)))

Kesimpulannya, buatku cuma ada dua bagian paling menarik-saking-mengerikannya: Cam. Dan Jason Rheinschild. Nama terakhir kisahnya gantung. Looking forward to read Unsouled, yang bukunya baru rilis dan bahkan belum ada edisi paperbacknya.

p.s.: Dear Mr. Shusterman, I love how you put those ads of unwinding. It makes everything seems much more real and horrible. As a communication student, I love it a lot. :P

Unwind - Review

I had reviewed this on my Goodreads account. Check this out: https://www.goodreads.com/review/show/65917095

Late review. I was too lazy to write. As always.

Beyond imagination. Buku ini sangat liar. Sangat distopia.

Buat aku yang dari zaman kelas 3 SMA mikir tentang gimana kalo suatu saat nanti pencangkokan jaringan-jaringan tubuh manusia bisa dilakukan. Kalo jari seseorang putus, bisa di"sambung" pake jari orang lain yang mau jadi donor. Begitu pun bagian tubuh lain. Wah, penyakit apapun bisa sembuh dong. Pemikiran semacam itu sifatnya utopia. Lewat Unwind, rasanya angan-angan itu jadi mimpi buruk......

***

Heartland war berakhir dengan adanya kesepakatan: anak-anak usia 13 hingga 18 tahun, yang tidak diinginkan oleh keluarganya, dapat di-Unwind. Unwind sendiri adalah term yang mengacu pada proses pemisahan bagian-bagian tubuh manusia untuk kemudian di"donorkan" kepada orang lain yang sekarat padahal hidupnya dianggap lebih berharga.

Fokus penokohan Unwind ada pada tiga orang Unwinds. Connor, anak yang dianggap hanya membawa masalah bagi keluarganya; Risa, bagian dari panti asuhan yang sedang mengalami kesulitan finansial dan tidak dianggap memiliki cukup bakat untuk dipertahankan; serta Lev, yang memiliki keluarga relijius dengan kepercayaan bahwa pengorbanan anak untuk Unwind merupakan kewajiban. Dalam usaha melarikan diri, ketiganya bertemu dan sama-sama berjuang menghindari kejaran polisi Juvey-Cops. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, berdebat, berkhianat, berakhir menjadi legenda.....

***

Suka sama cara Mr. Shusterman membuat POV: POV orang ketiga, tapi tetap mengacu ke tokohnya (gimana sih istilahnya -.-"a). Fast-paced, tapi engga bikin ngos-ngosan. Mengerikan di saat yang ngga terduga, itu yang paling bikin kesel, in a positive way. Setiap chapter diselingi satu halaman yang berisi artikel-artikel terbaru yang isinya menimbulkan kesan bahwa FAKTANYA SAAT INILAH, AWAL MULA IDE UNWIND TERCETUS. That's what makes me shiver the most.

Part favorit (dan paling mengerikan) dari buku ini? (view spoiler)

Unwind bisa disimpulkan cukup clearly finished as a book, menurutku. Memang masih menimbulkan pertanyaan, tetapi enggak gantung. Enggak seperti kebanyakan novel sekuel lain yang akhirannya si tokoh utama lagi ada di dalam kereta atau bus atau kendaraan apapun which leads them to entah kejadian apalagi dan kelanjutannya sangaaaaat gantung. Tapi, nggak mungkir kalo bakal ngikutin sekuelnya sampe buku keempat. Akhir kata: "Nice socks!" *clapping hands three times* *dhuaaaaarrrr*

Sunday, March 31, 2013

The Book Thief -- The Tears Thief.


Buku ini tentang apa sih? Well..

Buku ini berkisah tentang Death. Death, atau kematian yang selalu ditakuti sama manusia, ternyata bekerja sangat keras pada zaman perang dunia. Di tengah-tengah pekerjaan yang melelahkan itu, ia bertemu Liesel Meminger. Ia bertemu Liesel pada saat ia sedang ‘bekerja’ pada tubuh adik Liesel. Saat itulah Death mengikuti hidup Liesel dari kejauhan dan memutuskan untuk mengisahkannya pada kita.

Liesel saat itu berusia 9 tahun, dan ibunya memutuskan untuk menitipkannya dan sang adik pada sepasang suami istri miskin. Namun, Death ditugaskan untuk hal yang berbeda. Tubuh adik Liesel terpisah dari arwahnya di pelukan Liesel dalam perjalanan menuju rumah orangtua asuh mereka.

Ketika sang adik dimakamkan, Liesel tidak sengaja menemukan sebuah buku di tumpukan salju di dekat makam adiknya. Buku milik tukang gali kubur itu ia simpan, meski ia tidak bisa membaca. Sejak saat itulah ia menjadi sangat terobsesi pada buku.

Di rumah kedua orangtua asuhnya, Liesel perlahan-lahan mampu menyingkirkan bayang-bayang ibu serta adik kandungnya, dengan cinta yang unik dari Hans dan Rosa Hubermann. Bersama Papa Hans, yang merupakan seorang pemain akordion, ia belajar membaca. Caci maki serta hidangan mengerikan dari Mama Rosa menjadi sahabat baiknya setiap hari. Dan tentu saja, Rudy “Saukerl” Steiner, anak lelaki sebelah rumah yang menjadi lawan mainnya dalam sepakbola.

Ditambah lagi kehadiran pria muda Yahudi yang bersembunyi di basement rumah mereka.

This book is all about love. Friendship. Warmth of the family. War. NAZI. Anti-Jews. Bombs. Music. Colours. And books. Narrated by Death.

***

Akhirnya, setelah sekitar 3 bulan penantian dan pengharapan, gue baca The Book Thief juga. (Too bad, it doesn't have any Indonesian version.) That was such an exciting sensation, to really grab book you’d been hoped for a long time. Sekian lama gue nahan-nahan diri buat ngga baca spoilernya terlalu banyak, dan yep, i got it. I read it. And i sobbed. A lot.

Akhir cerita yang bisa ditebak sih: no happy ending. Sejak awal, gue udah kena spoiler, kalo buku ini bakalan bikin mewek-mewek. Gue tau itu. And i thought i was totally prepared for the crying-a-river moments. Jadi gue ga bakal terlalu syok lagi.

Tapi ternyata gue salah.

Buku ini indah. Bukan indah dari kata-katanya, kayak The Fault in Our Stars. (John Green is the masterpiece of WORDS) Buku ini indah dari gimana Markus Zusak ngebangun emosi pembacanya lewat adegan-adegan yang nyentuh. Gimana si Mama Rosa terus-terusan menghardik Liesel, gimana Rudy ngeselin banget jadi temen, gimana si Max (menurut gue) agak sok-sok strong. Kesannya menambah miserable hidup si Liesel (yang udah miserable). But on the contrary, at the middle of this book, you’ll see that you just can’t simply hate any of these characters. You can’t. Dan inilah yang juga membuat The Book Thief ‘nyelekit’. Too much ironical scene on this. Too much.

All in all, I highly suggest this book to you all, book lovers. 

Thursday, February 14, 2013

January's Reading Progress

1.     What: "The Fault in Our Stars. (Salahkan Bintang-Bintang)"
Who: Written by John Green
When: 31 Des-1 Jan
Where: Bought in Gunung Agung BCP, Bekasi
Why: With no reason! Lol. I was bored to death at that time so i went to the bookstore. And then i saw it on the shelf of the latest books... The perfection of the cover, and the synopsis which is sooo kewl..... I couldn’t refuse to buy it! Voilaaaaa~
How: The story? It’s a perfect story for your new year’s eve!!! I could’t handle my tears. That was my very first time reading John Green’s book and his words are so completely beautiful..
Undoubtedly, you should read it by yourself.





2.     What "The Bartimaeus Trilogy #3: The Ptolemy's Gate"
Who: By Jonathan Stroud
When: In the middle of my semester's last exam
Where: Bought in Gramedia Merdeka, Bandung
Why: Had searched of this trilogy since a long time ago. And just found it last October -_- But i got it at the bazaar! Yay, discount :D I was so interested because people said, these are books that will make you laugh even when you read its footnote. And crap, they're right! :D
How: The third book of the Barti trilogy is a great ending, i think. How i fell in love with Ptolemy, how i changed my thoughts over Nathaniel, and how i really like Barti! He's a very sarcastic genie that will make you dreaming to get along with him someday :)

3.     What "Divergent"
Who: By Veronica Roth
When: 24-26 Jan
Where: Bought in Gunung Agung BCP, Bekasi
Why: This is one of the NYT Best-seller for YA category so... yeah beside i was (and still) looking for any dystopia novels.
How: I couldn't stop reading this in about 100-200 first pages. But then, i don't know, there's so many thing i don't like from this first book of the trilogy. A bit boring at the end.


4.     What "Insurgent"
Who: By Veronica Roth
When: 26-27 Jan
Where: Bought in Gunung Agung BCP, Bekasi
Why: The same reason like why i bought Divergent. I didn't want to wait another day to continue reading this trilogy so i bought these 2 books.
How: More boring than Divergent -_____- I don't know is it just me, but the plot moves too slow. Slow and un-sure (?) Not a kind of dystopia novel i'd recommend. But seems like i will still read the last one. I have no choice, have to end what i've started. :))

5.     What "Legend"
Who: By Marie Lu
When: 29 Jan
Where: Bought in Gramedia MM, Bekasi
Why: Because of Kak Pipi! LOL! :))) And i was also in searching for another great dystopia novel.
How: This one is much better than Divergent & Insurgent omg :') Darker, simpler, but touchier! Surely, the second and third sequel are the ones i'm waiting for!

Challenge from Goodreads!

Pas awal tahun 2013 kemarin, Goodreads seperti tahun-tahun sebelumnya 'ngajak' kita bikin resolusi, seberapa banyak kita menargetkan diri untuk membaca buku tahun ini. Dan gue, berencana untuk ikutan membuat target tahun ini. Hanya saja, target yang gue buat dikhususkan bagi buku-buku yang berupa novel dan baru. Hihi. Maksudnya?

Iya, gue bikin resolusi, buat tahun 2013 ini gue akan menamatkan 25 buah novel yang nggak pernah gue baca sebelumnya, alias baru. Yupss, novel, bukan textbook ;)

Dan kalo dalam tahun ini gue juga baca buku yang kategorinya bukan novel, maka ngga akan termasuk dalam target 25 itu. Haha, ribet ye? Intinya, tantangan dari Goodreads gue jawab dengan persyaratan-persyaratan tambahan :D

Owlrait...

Next, i'm gonna post my January's reading-progress. Berhubung sekarang udah Februari, emang udah agak basi. Tapi yaaaah, mau gimana lagi, liburan menghanyutkanku dalam kedamaian kasur, sehingga enggan menyentuh laptop. (Alibi. Padahal gara-gara laptop gue aja rusak)

Ciao!

Thursday, December 20, 2012

Stack of Books

People love the smell of their meals, but i love the smell of new books more. On Path, people usually post what they're watching right now. And me? I always wait for the moment i enjoy my spare time with books so i can post on my Path's account "what i'm now reading". Whenever people love to take photos of food they're gonna eat, i'd rather choose to capture the stack of books --especially when it's mine.






These 3 is beautiful.
Gonna post the other someday..
:')